Perkawinan Akhirat

Ibu tak serta merta menjawab. Dengan tatap lembut dipandangnya kami satu per satu. Sesudah meraih gelas dan meminum isinya, dengan suara perlahan tapi jelas beliau menyebut sebuah nama.

Mendengar nama yang disebut ibu bukan kepalang kaget kami. Nama itu milik seorang kyai kampung yang sudah sepuh. Mungkin usianya sebaya ibu. Pak Haji Ibnu Sobirin, guru ngaji dan imam salat masjid desa yang terkenal berhati lembut dan suka melipur penderitaan orang lain secara material maupun spiritual. Sungguh kami tidak menduga jika dengan pak kyai itu ibu mau menikah.

Baca juga: Ada yang Mencuri Imajinasiku – Cerpen Eni Kusuma (Radar Banyuwangi, 12 Agustus 2018)

“Nah, kalian sudah tahu mengapa dan dengan siapa aku mau menikah. Jadi, tak seperti yang digunjingkan orang, aku menikah karena uangnya Pak Ibnu, aku menikah karena gatal. Tidak, bukan itu, tapi aku menikah karena ingin hidup bahagia di akhirat nanti.” Terasa sekali ibu sangat bersemangat saat menjelaskan hal itu kepada kami.

Beberapa menit lewat tanpa ada pembicaraan di antara kami. Ruangan sunyi. Mas Jum, aku, Sri, Bas, hanya tertunduk. Kami seolah ditinggal kata-kata. Mulut kami seperti terkunci, hati dan kepala kami terasa kosong.

“Sekarang terserah kalian. Dengan atau tanpa persetujuan kalian, aku akan tetap menikah,” ujar ibu kemudian dengan suara tegas. Terlihat ibu berdiri dan beranjak meninggalkan kami. Namun langkah ibu tertahan ketika mendengar suara Bas,

Baca juga: Azan untuk Bapak – Cerpen Haryo Pamungkas (Radar Banyuwangi, 19 Agustus 2018) 

“Tunggu, Bu,” Bas berdiri dan berjalan gegas mendekati ibu. Diraihnya tangan ibu dan diciuminya dengan penuh haru. Bas bersujud di kaki ibu.

“Maafkan aku, Bu. Selama ini aku sudah salah duga terhadap Ibu. Aku setuju Ibu menikah lagi.”

Bas menangis tersengguk. Dan seperti digerakkan oleh kekuatan gaib, Mas Jum, aku, dan Sri serentak berdiri dan menghambur ke arah ibu. Kami menangis bersama di pelukannya.

 

Kudus, 2016.

Mukti Sutaraman Espe, aktif menulis puisi dan cerpen. Karyanya tersiar di sejumlah surat kabar. Tinggal di Kudus.

Arsip Cerpen di Indonesia