Perkawinan Akhirat

“Sekarang kalian sudah berkumpul di sini, silakan bila ingin mengeroyokku.” Suara ibu terdengar getas.

Kembali kami saling pandang. Kali ini gantian Sri yang menunduk, memain-mainkan ponselnya.

“Kenapa Ibu berkata begitu? Tidak mungkin kami mengeroyok Ibu,” Mas Jum mencoba menjelaskan.

“Kami hanya ingin memastikan soal rencana pernikahan Ibu,” timpal Bas. Suaranya lirih dan hati-hati.

Baca juga: Api Kenangan – Cerpen Latif Fianto (Radar Banyuwangi, 02 September 2018)

“Iya, pasti. Aku akan menikah!” Suara ibu tegas.

“Tapi, Bu. Ibu sudah sepuh. Apa yang Ibu cari dalam pernikahan itu?” tanya Sri sambil memasukkan ponsel dalam tasnya.

“Kamu tidak mungkin memahami keinginanku, Sri!”

“Karena itulah, Bu, kami ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi,” kataku sembari membelai tangannya. Waktu itu, kebetulan dudukku paling dekat dengan ibu

Di luar dugaan, belaian tanganku membuat sikap ibu jadi melunak. Wajahnya menunduk. Tampak bila beliau sedang berusaha keras menyembunyikan air bening yang mengambang di pelupuk matanya.

“Kalian tahu, untuk membiayai hidup dan pendidikan kalian, dulu aku harus bekerja tak kenal waktu. Siang mengajar, sore memberi les di beberapa tempat, malam membuat jajanan yang pagi-pagi benar harus dititipkan di beberapa warung…” Ibu terbatuk. Sri beranjak dan mengambilkan segelas air putih.

Baca juga: Musim Panen dan Hewan Kurban – Cerpen Ali Satri Efendi (Radar Banyuwangi, 26 Agustus 2018)

Setelah minum satu-dua teguk, dengan suara perlahan dan kadang terputus-putus ibu melanjutkan. “Karena sibuk bekerja menutupi semua kebutuhan hidup itulah aku abai terhadap Allah. Aku tak pernah sekali pun bersujud kepada-Nya. Aku merasa banyak dosa. Maka, di sisa hidup ini aku ingin mendekat kepada-Nya. Aku ingin belajar ngaji dan mendalami ilmu agama,” Ibu mulai tak kuat menahan emosinya. Beliau pun menangis. Kami terdiam dan beberapa saat membiarkan saja ibu menumpahkan kesedihan yang entah berapa lama menyesaki dadanya.

Setelah suasana memungkinkan dan tak terlihat tanda bila ibu mau bicara lagi, aku angkat bicara,

“Lalu apa hubungannya itu semua dengan rencana pernikahan Ibu?”

“Karena aku ingin ngaji dan belajar agama kepada orang yang mau menikahiku itu!”

“Siapa orang itu, Bu?” Hampir bersamaan Mas Jum dan Bas bertanya.

Arsip Cerpen di Indonesia