Dilarang Melamun di Kelas

“Markiso, saya bertanya pada kamu; kenapa kamu melamun terus?”

Markiso gelagapan. Mulutnya tergagap. Markiso gugup. Manik-manik keringat tumbuh di keningnya.

“Jawab, Markiso. Kenapa?”

Terasa betul seperti ada gembok yang mengunci mulut Markiso. Sementara itu, Pak Pandiko berkali-kali bertanya, berharap dirinya mengucapkan sesuatu. Tetapi memang apa pula yang akan dikatakan dirinya. Markiso tak tahu apa yang akan ia ucapkan.

“Maaf, Pak,” akhirnya Markiso berkata.

Baca juga: Sebuah Kamar Rahasia – Cerpen Deden Hardi (Pikiran Rakyat, 15 Juli 2018)

“Ya, Bapak tahu. Tapi kenapa kamu melamun?”

Tentu Markiso makin bingung hendak menjawab apa. Dan karenanya, Markiso hanya bisa bilang:

“Maaf, Pak. Saya tak akan mengulangi.”

Melihat mata muridnya itu, Pak Pandiko merasa trenyuh. Matanya polos. Meski di sisi lain dirinya cukup sakit hati kalau tidak diperhatikan oleh Markiso, kesabarannya lebih tebal. Oleh karena itu, ia hanya menyarankan Markiso untuk memperhatikan pelajaran lagi.

“Tapi ingat, jangan kamu ulangi. Kamu akan jadi anak ketinggalan zaman kalau tidak memerhatikan pelajaran,” kata Pak Pandiko kepada Markiso.

“Iya Pak.”

Markiso kembali mencopot kacamatanya. Dibersihkannya lagi bagian lensa itu dengan ujung lengan bajunya yang putih, dan karena putih, debu pada lensa membuatnya belepotan warna abu-abu. Debu dari jalan raya di dekat kelas telah membuat pandangannya kabur, pikir Markiso.

Baca juga: Tentang Kerudung Baru Impian Ibu – Cerpen Sandza (Pikiran Rakyat, 01 Juli 2018)

Materi tentang tumbuh kembang tanaman pun terus diterangkan Pak Pandiko dengan lancar. Pak Pandiko mulai menerangkan pula jenis-jenis tanaman air dan tanaman yang hidup di daerah tropis. Informasi terkait usia berbagai jenis tanaman, pemanfaatan-pemanfaatan manusia terhadapnya, hewan apa saja yang tergantung pada tanaman tersebut, pengaruh sebuah tanaman terhadap kondisi alam dan manusia, dan lain-lain. Dan, untuk ketiga kalinya…

“Markiso!!!” suara Pak Pandiko menggelegar.

Markiso segera digelandang secara kasar oleh Pak Pandiko. Markiso memelas meminta maaf. Murid­murid melongo melihat peristiwa itu. Murid-murid di kelas lain bersorobok di balik kaca jendela.

Arsip Cerpen di Indonesia