“Markiso!” sengat Pak Pandiko di ruang perpustakaan yang sepi, “Saya harus sesabar apalagi! Hah?! Kamu sama sekali kurang adab! Sudah saya bilang, dilarang melamun di kelas! Kamu masih saja melamun! Tidak sopan!”
Pak Pandiko memberondongi Markiso dengan kata-kata penuh kesal. Sementara Markiso hanya menenggelamkan mukanya pada kedua lulutnya yang gemetar. Perasaan bingung menyergapnya. Ia sungguh tak mengerti mengapa imajinasi-imajinasi di dalam kepalanya begitu liar. Ia merasa, imajinasi tersebut datang tiba-tiba, lalu dengan cepat dan tanpa disadari telah membawanya pada dunia lain, dunia yang bertolak belakang dengan harapan Pak Pandiko.
Setelah dirasa semprotannya cukup membuat jera Markiso, Pak Pandiko akhirnya menghukum muridnya yang suka mengabaikan pelajaran itu dengan tugas. Tugasnya adalah membawa tanaman.
Baca juga: Kisah Pilu tentang Seutas Tali – Cerpen Sam Edy Yuswanto (Pikiran Rakyat, 10 Juni 2018)
“Kalau tidak di dalam air, ya di atas air, kalau tidak ada, ya tanaman lembap saja yang hidup di sekitar sungai. Paham?”
Markiso mengangguk pelan.
Tak lama setelah itu, Pak Pandiko pun lekas menuju kelasnya. Dengan perasaan yang masih menyisakan asap kesal.
Mata Pak Pandiko memandang sekitar sekolah. Dunia dirasakannya telah berubah begitu cepat. Dulu, sekolahnya dikelilingi alam yang indah dengan hawa sejuk. Hamparan sawah yang hijau, selalu menyenangkan perjalanan pulang dan perginya, membuatnya tenang dan sabar dalam mengajar. Tetapi sekarang, yang menyelimuti sekolahnya adalah gedung-gedung tinggi dan jalan-jalan aspal yang menguapkan hawa panas serta gatal.
Terpekur sejenak akan kenangan masa lalu, akhirnya membuat Pak Pandiko berbalik arah. Pak Pandiko merasa, sikapnya terhadap Markiso terlalu berlebihan. Barangkali Markiso adalah korban dari perasaannya yang sedang tak keruan.
“Nak,” sapa Pak Pandiko lembut kepada Markiso, “Loh, loh, loh, kenapa menangis…?” Pak Pandiko kaget karena Markiso memeluknya tiba-tiba.
Baca juga: Kekasih dari Bulan – Cerpen Rosi Ochiemuh (Pikiran Rakyat, 02 September 2018)
“Tugasnya susah, Paaaak. Di dekat rumahku yang baru kini hanya ada selokan! Airnya hitam. Banyak sampah. Bau,” rengek Markiso sambil menepuk dada gurunya itu, “Jangan itu. Ganti saja. Ganti saja, Pak. Aku mohon…”
Tergeruslah hati Pak Pandiko. Ia sekali lagi tersadar kalau pembelajaran kontekstualnya, di mana ia sering membawa muridnya ke alam bebas, juga ikut berubah. Pembelajaran menjadi menyempit serta menuntut modal; kalau harus wisata pendidikan, sekolah membawa muridnya ke kebun binatang, ke museum, ke ruangan tertutup di mana ruang antariksa buatan dapat dinikmati, ke taman buatan, dan kalau belajar di kelas, paling sering melihat-lihat buku.