Baca juga: Cerita Nenek – Cerpen Ahmad Moehdor Al-Farisi (Pikiran Rakyat, 09 September 2018)
Dan, bagi Pak Pandiko, tugas Markiso semacam itu di zaman sekarang, cukup berat dirasakan. Barangkali pula, kata hati Pak Pandiko, mungkin alasan mengapa Markiso sering melamun adalah karena ia rindu rumahnya yang dulu, yang dekat dengan sungai, tempat ia biasa membantu orangtuanya mencari ikan dan kijing, tempat ia mandi bersama teman-temannya. Tetapi, jalan tol terpaksa membuat mereka pergi dari tempat yang sudah turun-temurun dihuni itu. Begitulah kabar ketika pertama kali sepasang ibu dan bapak menitipkan Markiso kepadanya. Lagi-lagi, Pak Pandiko menyadari, kalau lingkungan keluarga pun tak luput dari perubahan.
“Kumohon jangan tugas itu, Pak! Kumohon!” Pak Pandiko memeluk lebih erat Markiso.
“Tidak, Nak. Tidak akan.” ***