Lelucon Eyang Masnawi

“Kalau dulu aku memarahimu, tentu kamu takkan mau berangat lagi untuk mengaji.”

“Terima kasih, Eyang.”

“Boleh aku memintamu melakukan sesuatu.”

Istri Eyang Masnawi yang tangannya terus melakukan pekerjaaanya seketika melirik, ia memindahkan pandangannya tanpa gerakan otot leher, napasnya seperti ditahan, detak jantungnya diredam sebisa mungkin, kepekaan pendengarannya ditingkatkan hingga limit tertinggi.

“Apa yang bisa saya bantu, Eyang?”

Baca juga: Mematikan Lagarise – Cerpen Caroline Wong (Media Indonesia, 16 September 2018)

“Hampir sepuluh tahun terakhir, rumah ini menjadi begitu sepi. Sebabnya, tak ada lagi orang tua mengantar anak-anak Patrawisa mengaji padaku. Kami kesepian di rumah ini.”

“Lalu?”

“Apa yang membuatmu senang mengaji, dulu?”

“Saat musim panen buah.”

“Itu saja?”

Tiga orang itu tertawa bersama. Semarak.

“Adakah yang membuatmu enggan datang mengaji?”

“Tahi burung, meski aku suka kicauan mereka.”

Selama sepuluh tahun terakhir, seiring tak berbuahnya pohon-pohon dan hilangnya burung-burung, santri-santri Eyang Masnawi makin berkurang hingga habis sama sekali. Entah ke mana burung-burung itu pergi.

Baca juga: KAU SEDANG MEMBACA APA – Cerpen Tjak S Parlan (Media Indonesia, 09 September 2018)

“Kausudah sekolah tinggi di kota, pasti tahu caranya membuat pohon mangga dan rambutanku kembali berbuah dan memanggil kawanan burung untuk tinggal lagi dengan kami?

***

Madha memanjat untuk melihat dari dekat kedua pohon yang ketika kecil sering dipanjatnya itu. Dulu, pohon itu, ia rasakan begitu tinggi. Tapi, tidak lagi sekarang. Itulah kelucuan yang dimaksud Eyang Masnawi, pikirnya. Madha merasa kembali ke masa sepuluh atau belasan tahun yang lalu. Ia ingin sebentar saja tak mengacuhkan perintah orang yang begitu dihormatinya itu, sekadar untuk berziarah pada masa lalunya yang tak terawat. Sekali lagi, ia kembali teringat kata-kata si empunya pohon bahwa masa lalu hanya jadi lelucon hari ini. Itu berarti hari ini akan menjadi lelucon masa depan bagi anak cucunya. Bagaimana dengan sepasang pemilik pohon yang tak beranak-pinak itu. Siapa yang akan menertawaan pekerjaan-pekerjaan mereka sembari menunggu mati?

Arsip Cerpen di Indonesia