Lelucon Eyang Masnawi

Ketika tersiar kabar bahwa akan dibangun pembangit listrik panas bumi, semua orang yang mempunyai sertifikat tanah di Patrawisa yang termasuk jalur pegunungan yang berpuncak Slamet diiming-imingi segepok uang untuk menjual tanah mereka. Hanya tanah Eyang Masnawi yang bertahan. Sebenarnya, pusat eksplorasi berada di hutan lindung yang berbatasan langsung dengan tanah masyarakat adat, termasuk di dalamnya adalah tanah milik Eyang Masnawi yang diwarisi dari orang tua istrinya.

Baca juga: Zikir Sunyi Perempuan yang Merindukan Kakbah – Cerpen Yaya Marjan (Media Indonesia, 12 Agustsu 2018)

Eyang Masnawi yang sebenarnya menggunakan kurang dari sebagian tanahnya untuk berladang, selebihnya menjadi tempat hidup pohon-pohon besar yang menyembunyikan sebuah mata air yang menjadi hulu sungai yang menyuplai air ke rumah-rumah penduduk lima kampung terdekat dengan mata air. Sebagian lagi, tanah itu ditanami pohon yang menghasilakan buah, termasuk kebun pisang yang tak pernah dipanen. Buah-buah itu menjadi makanan kera endemi yang tinggal di punggung bukit. Hal itu dilakukan Eyang Masnawi karena peristiwa belasan tahun lalu ketika kebun orang satu kampung di serang kawanan kera saat musim kemarau panjang melanda.

“Eyang, berkenanlah menjelaskan alasan penolakan Eyang agar saya dapat membantu menjelasan pada mereka?”

“Tunggulah saatnya, peristiwa hari ini akan kamu lihat sebagai lelucon.”

“Kapan itu, Eyang?”

“Setelah aku mati. Karena waktunya semakin dekat, aku berwasiat kepadamu, istriku jadi saksi, kalau mati nanti, kuburkan aku di Patrawisa. Aku ingin selalu dekat dengan pepohonan dan kera yang akan menjadi penolongku kelak. Juga kawanan serangga dan burung.”

***

Baca juga: Sepotong Roti Hijau – Cerpen Marliana Kuswanti (Media Indonesia, 19 Agustus 2018)

Madha medengar suara kerumun orang yang semakin mendekat. Matanya bolak-balik memandang ke arah Eyang Masnawi dan istrinya. Padangan itu adalah tanda tanya yang menggumpal sehingga meyumbat napas dan meredam detak jantung mereka. Ketiga orang itu bersitatap saling memantulkan cercah cahaya api dari lampu minyak yang bias karena gelisah. Ketegangan dan kegugupan semakin lama makin berat menekan dari dalam dada masing-masing seakan ingin mberojol karena buncah seiring makin nyata gemuruh suara itu. Entah apa saja kata-kata yang berbaur dan menggemuruh  dari kerumun itu, tapi terasa nyinyirnya, sengak, seperti bau septictank, benar-benar mejijikan. Membuat nyeri di lambung sekaligus mual. Tekanan udara dari lambung itu pula mendorong bubur makanan yang telah bercampur lendir syarat enzim yang terasa pahit di lidah keluar melalui tenggorokan. Sebagian sedikit masuk ke celah kerongkongan, perih di pangkal hidung.

“Ganyang, antipembangunan!”

“Enyah belis!”

“Asu buntung!”

“Takbir!” *

 

Bunga Pustaka, 2017

Mufti Wibowo, lahir dan tinggal di Purbalingga dan Purwokerto. Bergiat di Komunitas Bunga Pustaka, menulis cerpen dan esai.

Arsip Cerpen di Indonesia