“Sudah saya periksa, pohon-pohon itu sepertinya akan berbuah lagi setelah batang-batang mangga dan rambutan saya bersihkan dari parasitnya. Pupuk yang diberikan selama ini hanya menggemukan parasit-parasitnya yang menempel di batang-batang dahan mangga dan rambutan.”
“Aku harap, musim buah yang akan datang mengundang santri-santri baru untuk mengaji.”
Madha lega menyaksikan harapan menyemburat cerlang keperakan dari mata Eyang Masnawi, “Anak-anak Patrawisa akan datang sebab mencium aroma nektar saat pohon mangga dan rambutan itu mulai berbunga.”
Baca juga: Pencuri Kesunyian – Cerpen Agus Salim (Media Indonesia, 02 September 2018)
Eyang Masnawi tersenyum, “Santri-santriku tak hanya anak-anak Kelir, tetapi juga serangga-serangga dan burung-burung.”
“Santri-santrimu hanya akan mau datang dan tinggal di tempat yang tersedia air dan makanan yang cukup untuk membesaran anak-anak mereka,” tukas istri Eyang Masnawi.
“Burung emprit sudahkah tidak memakan biji-bijian dan menjadi pemangsa seperti saudara mereka, elang dan camar?”
***
“Eyang sudah mendengar, kalau di kampung kita akan dibangun pembangkit listrik panas bumi?” tanya Madha gusar.
“Lho, sejak dulu kamu ngaji di sini, sampai sekarang, rumah ini tidak nyalur listrik, jadi aku tidak perlu tahu berita macam itu?”
“Kalau Eyang tak mau pakai listrik, orang di luar sana ngantre-ngantre untuk mendapat aliran listrik, tak terhitung yang mencuri. Pabrik, kantor-kantor, sampai kereta tak bisa jalan kalau tak ada listrik.”
“Terus apa hubunganku dengan listrik dan orang-orang yang bergantung dari listrik itu?”
Baca juga: Kambing yang Jatuh dari Langit – Cerpen Anas S Malo (Media Indonesia, 26 Agustus 2018)
“Karena listrik itu menyangkut hajat orang banyak, alangkah baiknya kalau Eyang menjual tanah di Patrawisa. Mereka mau membeli mahal tanah Eyang.”
“Jadi, untuk itu kamu datang kepadaku?”
“Bukan begitu, aku tetap santri Eyang, tak berkurang takzimku sedikit pun, dulu atau pun sekarang.”
Sejak setahun terakhir, santri Eyang Masnawi hilang sama sekali. Ini cukup mengherankan sebab—meski tidak pernah memiliki santri yang banyak—setiap tahun selalu ada orang tua yang memasrahkan anaknya untuk mengaji kepada sesepuh Patrawisa itu. Mereka adalah para satri kalong. Nyantri yang mengaji hanya saat sore hingga malam hari.