Peluit Perdamaian

SELAMA perjalanan aku mengabaikan semua firasat buruk yang sebelumnya ada di hatiku mengenai peluit pemberian orang gila itu. Namun sesampainya di lapangan futsal, hatiku seketika menjadi kecut. Aku melihat keadaan yang lumayan kacau pada sepanjang jalan sebelum sampai tempat pertandingan. Pada samping kanan dan kiri jalan tempatku melintas, terdapat batang kayu dan batu yang menggelepar bebas. Lalu ketika aku memasuki ruang ganti, seorang teman menjelaskan sempat terjadi kericuhan antara pendukung dua tim. Aku memakluminya sekaligus bersyukur tak terjebak kericuhan itu.

“Ini akan menjadi pertandingan yang panas dan penuh emosi,” ujar rekanku. “Kau harus memiliki mental yang kuat untuk memimpin pertandingan.”

Baca juga: Pada Kota Serupa Sajak Chairil Anwar – Cerpen Risda Nur Widia (Koran Tempo, 30-31 Desember 2017) 

Mendengar ucapan rekan wasit itu sempat membuatku gentar. Aku tahu segala risiko memimpin pertandingan ini. Aku paham bisa sewaktu-waktu menjadi amukan pendukung di lapangan. Karena sangat tidak menutup kemungkinan, pertandingan itu berakhir ricuh. Belum lagi kalau aku dianggap merugikan salah satu tim hingga membuat tak aman di lapangan. Demikianlah. Dua pendukung itu aku kenal memang brutal dan fanatik terhadap timnya. Mereka melakukan apa saja demi dapat membuat tim yang didukungnya menang. Cara-cara kotor seperti menyerang atau mengintimidasi wasit biasa mereka lakukan.

Aku ingat betul bagaimana dua pendukung tim ini sangat licik dalam berbagai hal. Misalnya pertandingan dua tim itu enam bulan yang lalu. Waktu diadakan pertandingan, dua tim itu sempat rusuh. Para pendukung itu bahkan saling lempar batu dan mengumpat sebelum pertandingan dimulai. Namun polisi bisa menanganinya dengan baik. Sayangnya kericuhan kembali terjadi di dalam pertandingan saat salah satu tim mencetak angka. Seorang pendukung menganggap gol itu sah. Sementara pendukung dari pihak lawan menganggap ada pelanggaran sebelum gol terjadi. Para pemain di lapangan ikut protes seperti yang dilakukan pendukung dua tim. Yang terjadi kemudian—karena tidak memiliki titik temu—kerusuahan pecah.

Baca juga: Rinjani: Pada Suatu Hari yang Malas – Cerpen Risda Nur Widia (Suara Merdeka, 16 Oktober 2016) 

Para pendukung tim yang dirugikan turun ke lapangan. Mereka berusaha menyerang wasit yang dianggap sepihak. Di sisi yang lain—dari penduktmg yang diuntungkan—mencoba membela. Hasilnya, kembali saling pukul dan lempar batu terjadi. Polisi sangat kewalahan saat melerai kerusuhan itu. Pertandingan itu bahkan harus diulangi tanpa kehadiran penduktmg dua tim. Hanya saja kerusuhan tetap saja pecah di luar lapangan setelah pertandingan dilakukan. Dan memikirkan semua itu membuat bulu roma di tubuhku meremang.

Arsip Cerpen di Indonesia