“Aku takut sebenamya,” jawabku dengan jujur kepada rekan-rekan wasit setelah mendengar perihal kericuhan. “Bagaimana nanti kalau kerusuhan kembali pecah dan kita semua menjadi bulan-bulanan dua pendukung.”
Rekan-rekanku terdiam Mereka hanya menjawab lirih. “Kita berdoa saja. Yang penting kita memimpin pertandingan dengan baik.”
Baca juga: Hitler dan Neraka yang Dibuatnya – Cerpen Risda Nur Widia (Jawa Pos, 31 Juli 2016)
Aku mengangguk memberikan isyarat kepada rekan-rekanku itu. Aku dan rekan-rekan wasit—beberapa menit sebelum pertandingan dimulai—berdoa agar pertandingan berjalan lancar. Hanya konsentrasiku kembali pecah waktu mencari peluit yang biasa aku gunakan. Secara tiba-tiba peluitku hilang. Sempat aku panik mencarinya. Ditambah lagi waktu pertandingan yang sudah sangat mepet. Lalu teman-teman wasit menyarankan untuk meminjam ke panitia pertandingan. Sialnya, pihak panitia juga teledor mengenai peluit pertandingan yang harus disiapkan. Untuk menyiapkan yang baru, panitia merasa sangat kekurangan waktu. Karena pertandingan harus dimulai lima menit lagi. Akhirnya di tengah kecamuk, aku teringat peluit pemberian orang gila itu. Mau tak mau, aku menggunakan peluit itu.
“Hilangya peluit semoga bukan pertanda sial!” desisku pada diri sendiri. “Semoga pertandingan tetap lancar.”
***
PERTANDINGAN dimulai. Peluit pemberian orang gila itu aku tiup kencang. Suaranya menggema memecah kegaduhan di lapangan. Selain itu—setelah peluit itu aku tiup—tiba-tiba umpatan para pendukung dua tim mereda. Sampai sayup-sayup akhirnya menghilang. Pertandingan yang biasanya juga berjalan dengan tensi panas dan penuh pelanggaran keras menjadi mereda serta lancar. Para pemain di lapangan yang acap cemberut dan menampakkan wajah muram terlihat tenang serta penuh senyum saat bertanding. Setiap pemain kedua tim itu bahkan seolah sedang melakukan pertandingan persahabatan yang begitu akrab.
Baca juga: Obituarium Origami – Cerpen Risda Nur Widia (Republika, 02 September 2018)
Para pendukung juga demikiar. Mereka tidak banyak berulah seperti biasanya bila bertemu. Lemparan-lemparan batu atau barang padat lainnya tak ada yang melesat ke lapangan. Para penonton bahkan hanya duduk dengan tenang seraya mendukung dengan cara yang normal. Begitulah. Para panitia—karena kejadian ini—dibuat tidak mengerti. Sama halnya ketika salah satu tim mencetak gol, tampak wajah kegembiraan yang tak memihak tim mana pun dari para pendukung. Mereka—para pendukung—bersorak bersama. Mereka seakan merayakan gol yang tercipta sebagai milik mereka berdua. Pertandingan pagi itu benar-benar berjalan tertib. Tak ada adu-jotos seperti pertandingan yang sudah-sudah. Sampai pertandingan selesai, tak ada kericuhan yrang terjadi. Polisi, yang jumlahnya ratusan dan ditugaskan untuk menjaga, merasa kebingungan.
***