AKU masih tidak mengerti dengan keganjilan dalam pertandingan itu. Bahkan sepanjang jalan pulang— setelah pertandingan usai—aku terus memikirkannva: Apa yang membuat para pendukung dua tim itu tenang? Mengapa para pemain yang biasanya terlibat dalam pertandingan dengan tensi panas bisa menjadi santai? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berkelindan di dalam kepalaku. Sampai kemudian aku teringat kembali kata-kata orang gila itu bahwa “Peluit itu bisa mendamaikan kebencian”. Aku terus melamun: Apakah benar apa yang dikatakan oleh orang gila itu? Pikiranku yang mengawang ke sana-kemari tidak menemukan jawaban yang tepat. Namun pikiranku yang mengawang-awang kembali terpusat setelah aku mendengar tembakan di sebuah toko swalayan.
“Dor… dor… dor…!” Tembakan terdengar keras.
Para polisi tidak lama datang dan mengepung swalayan itu. “Menyerahlah! Kami mengurung kalian semua!”
Baca juga: Bunga Kesunyian yang Tumbuh di Jantungmu – Cerpen Risda Nur Widia (Haluan, 23 September 2018)
Para perampok tidak mau menyerah. Mereka tetap kukuh ingin menguasai barang jarahan. Akhirnya baku tembak antara polisi dan perampok terjadi. Aku sendiri ketakutan seperti orang-orang pada umumnya di lokasi kejadian. Hanya saja ketakutanku—dan masyarakat umum—tidak meredakan tembakan. Letusan senjata api terus mendengung. Dan di tengah kekacauan, aku kembali teringat peluit itu. Aku juga teringat semua pertanyaan anehku mengenai peluit itu: Apakah benar peluit ini bisa mendamaikan? Akhirnya aku tiup dengan keras peluit itu. Sebanyak mungkin. Pun yang terjadi kemudian baku tembak berakhir. Para perampok itu juga menangis meminta maaf karena membuat keramaian di kota. Sementara aku semakin tak mengerti dengan keajaiban peluit tersebut.
***
DI rumah aku memandang peluit pemberian orang gila itu. Aku masih tidak habis pikir dengan keajaiban peluit tersebut. Benar-benar tak masuk akal, pikirku. Sementara itu, ketika aku terus memikirkan tentang peluit, televisi yang aku hidupkan menayangkan penggusuran dan perselisihan antara aparat dan warga di Kulonprogo. Akhimya karena penasaran dengan keajabaiban peluit itu—mengabaikan tubuhku yang lelah—aku memutuskan untuk pergi ke area tanah sengketa itu. Aku ingin meniup peluit aneh ini dengan keras di tengah kekacauan. Aku ingin mendamaikan keadaan. Aku berharap dengan damainya keadaan masalah yang pelik bisa kembali dibicarakan dengan baik. (*)
Risda Nur Widia. Buku tunggalnya: Bunga-bunga Kesunyian (2015), Tokoh Anda yang Ingin Mati Bahagia Seperti Mersault (2016), Igor: Sebuah Kisah Cinta yang Anjing (2018). Cerpennya telah tersiar di berbagai media.