Surti tersenyum tipis. Benu ditatap lekat-lekat. “Mengapa masalah seperti itu kamu tanyakan, Mas? Jika setiap hari aku sering di depan cermin dan dandan mestinya Mas merasa senang. Bisa memandang istrinya yang kelihatan bersih, segar, dan tambah cantik. Mestinya begitu.”
Benu hanya diam.
“Mas, sekarang aku yang ganti bertanya. Apa Mas merasa cemburu jika sekarang aku sering berada di depan cermin? Tidak mungkin aku melakukan hal yang tidak semestinya. Percayalah, Mas, cintaku hanya untuk kamu. Sumpah!”
Baca juga: Semilir Angin Pagi – Cerpen Irul S Budianto (Rakyat Sumbar, 04-05 Agustus 2018)
Benu sekarang menarik napas panjang.
“Bukan itu maksudku,” ucapnya kemudian terdengar agak berat.
“Kalau bukan itu, apa yang menyebabkan Mas bertanya seperti itu?”
“Aku hanya merasa heran dengan perubahan yang ada pada dirimu.”
“Mas, setiap kali aku berada di depan cermin dan dandan sebenarnya ini hanya untuk Mas. Maksudku, agar Mas semakin sayang dan cinta padaku. Seperti waktu pacaran dulu,” ucap Surti lalu memeluk Benu erat-erat.
Pembicaraan antara keduanya berhenti sampai di situ. Benu dan Surti lalu tidur. Merangkai mimpi-mimpinya.
***
Baca juga: Danau dan Sepotong Cerita – Cerpen Fina Lanahdiana (Republika, 23 September 2018)
Perubahan di rumah itu ternyata tidak sebatas itu saja. Ada perubahan lain yang terjadi pada diri Surti yang mau tidak mau membuat Benu semakin tidak mengerti dan bingung.
Suatu hari Surti bercerita kepada Benu jika setiap kali berada di depan cermin, menurut penglihatannya, wajahnya terlihat semakin cantik. Cantik sekali. Seperti bidadari dari kahyangan.
Tidak hanya itu. Setiap kali melihat cermin itu, saat itu pula muncul bayangan seperti kalung, gelang, cincin, dan barang-barang berharga lainnya. Mendengar penuturan Surti seperti itu tentu saja menjadikan Benu seketika kaget bukan kepalang. Tidak masuk akal, pikirnya.
“Benar, Mas, setiap kali aku berdiri di depan cermin itu tiba-tiba bayangan barang-barang itu selalu muncul. Tampak jelas di depan mata. Jika Mas tidak percaya bisa dibuktikan sendiri,” ucap Surti meyakinkan.
“Itu jelas tidak masuk akal,” Benu bersikukuh dan tetap tidak percaya dengan omongan istrinya.