“Itu kan menurut ilmu kedokteran. Tetapi mata saya yang melihat itu kenyataannya……”
Belum sampai Surti melanjutkan perkataannya Benu cepat-cepat mengajak istrinya pulang. Sementara dokter yang sekarang sendirian di ruang praktiknya itu masih amat penasaran dengan pasien yang baru saja ditangani. Baru kali ini ia mendapatkan pasien dengan kasus mata seperti itu.
Baca juga: Obituarium Origami – Cerpen Risda Nur Widia (Republika, 02 September 2018)
Meski matanya dinyatakan normal oleh dokter yang ahli di bidangnya, kenyataannya tidak membuat hati Benu merasa tenang. Sebab dalam kesehariannya istrinya selalu terus mengajak berdebat tentang penglihatannya di depan cermin. Kenyataan itu pun menjadikan Benu semakin bingung sendiri.
Tidak ingin larut dalam perdebatan yang mengakibatkan keluarganya tidak harmonis, suatu hari tiba-tiba Benu mengambil kursi kayu dan kemudian dilemparkan dengan sekuat tenaga ke arah cermin. Cermin itu pun hancur berkeping-keping. Sementara istrinya yang melihat dari kejauhan hanya bisa diam dan tidak bisa berkata-kata lagi.
Irul S Budianto lahir di Boyolali, 22 Juli. Selain cerpen juga menulis puisi dan esai sastra-budaya. Kini tinggal di Boyolali, Jawa Tengah