Karena rasa penasarannya yang meletup-letup Benu pun akhirnya ingin membuktikan omongan istrinya. Pelan-pelan kakinya diangkat mendekati cermin yang ada di kamarnya. Setelah berdiri tepat di depan cermin, dengan tatapan mata yang tajam, cermin itu pun diamati dengan saksama. Tetapi setelah diperhatikan beberapa saat lamanya bayangan yang terlihat hanya bayangannya sendiri. Bayangan seorang buruh pabrik dengan upah yang tidak begitu besar dalam setiap pekannya.
“Mana bayangan barang-barang seperti kalung, gelang, dan lainnya yang kau katakan itu? Aku tidak melihatnya.”
“Masak sih, Mas. Setiap kali aku berdiri di depan cermin itu bayangan barang-barang itu pasti muncul.”
Baca juga: Lelaki Pengurus Orang Mati – Cerpen Risen Dhawuh Abdullah (Republika, 16 September 2018)
“Kenyataannya aku yang sekarang berada di depan cermin tidak melihat barang-barang yang kau sebutkan itu.”
Karena Benu tetap tidak percaya dengan bayangan barang-barang itu, Surti akhirnya mendekati Benu yang masih berada di depan cermin. Setelah keduanya berdiri berjajar di depan cermin, Surti pun lalu tersenyum dan mengatakan kalau barang-barang yang disebutkan itu terpampang jelas di depan matanya. Sementara Benu yang juga melihat cermin tetap tidak bisa melihat barang-barang itu. Bayangan yang terlihat hanya Surti dan dirinya.
Kejadian di depan cermin itu mau tidak mau menjadikan perdebatan yang tiada habisnya. Bahkan hari-hari berikutnya perdebatan antara Benu dan istrinya semakin menjadi-jadi. Untuk mencari jalan keluar akhirnya Benu memutuskan akan mengajak Surti periksa mata ke dokter spesialis mata. Dengan hasil pemeriksaan itu nantinya akan diketahui mata siapa yang sebenarnya tidak normal.
***
Baca juga: Sarung untuk Bapak – Cerpen Arie Fajar Rofian (Republika, 09 September 2018)
“Menurut hasil pemeriksaan, mata Pak Benu dan istri normal. Sehat,” kata dokter spesialis mata, setelah melakukan pemeriksaan.
Mendengar perkataan dokter itu hati Benu pun menjadi lega. Tetapi tidak demikian dengan Surti. Ia tetap bersikukuh dengan penglihatannya yang telah dialami.
“Sungguh, Dok, setiap kali saya berdiri di depan cermin di kamar saya, bayangan seperti kalung, gelang, dan lainnya itu selalu muncul. Tampak jelas sekali.”
“Tetapi mata Ibu normal.”
“Ini kenyataan yang saya alami, Dok. Saya tidak berbohong.”
“Tetapi dari hasil pemeriksaan secara ilmiah ilmu kedokteran, mata Ibu tidak ada gangguan.”