Teh Kenangan

Ati karibku di kantor, di sela kerja, kerap melontar cakap romantis, dramatik hingga yang lucu. Beban kerjaku terasa ringan oleh kehadirannya. Kami sering keluar bersama. Saling traktir dan saling berbagi kisah.

Aku menjalani semua itu dengan hati yang riang, karena ini semesta lain di luar rumah. Rina tak mungkin tahu tentang ini, sehingga ia tak akan sakit hati. Sebisa mungkin aku akan merahasiakan permainan ini agar tidak bocor ke telinga Rina. Agar rumah tanggaku baik-baik saja. Agar aku di sini, juga baik-baik saja.

Suatu siang yang gerah, pohonan yang daun-daunnya mandi debu di tepi jalan kota hanya bergerak pelan. Saat jam istirahat, Ati mengajakku makan di sebuah depot. Sudah terbiasa kami makan bersama saat jam istirahat. Saat itulah kesempatanku menghibur diri dari kepenatan kerja.

Baca juga: Orang Gila di Bawah Papan Iklan – Cerpen A. Warits Rovi (Tribun Jabar, 01 April 2018)

Bibir Ati yang mirip sesisir jeruk ranum membuat mataku takluk dan nyaris tak kedip. Kami tertawa di antara cerita-cerita, berseling suapan dan kunyahan dengan gemeretak bunyi yang membuat goyang bibir semakin lincah. Aku—dan mungkin juga Ati—lupa kepada pasangan sah yang di rumah, bahkan jarang menyusun perhitungan bagaimana jika kita kepergok atau stidaknya ada tutur warta dari seseorang untuk yang di rumah. Ah, kami terlalu yakin bahwa semuanya aman-aman saja.

Tak seperti biasanya, siang itu di pertengahan makan kami, pelayan depot datang meletakkan dua gelas teh hangat di depanku. Ati berterima kasih dan sigap jarinya meraih sedotan dan ditancapkan ke bibirnya. Tegukan demi tegukan membuat mata Ati nyala lebih ceria dan wajahnya kian semringah.

Aku hanya bisa menatap dengan bola mata orang dungu. Segelas teh coklat kekuningan yang mengapungkan es batu dalam gelas bersedotan putih itu mengocok-ngocok isi kepalaku. Sepasang tangan masih mengabaikan sendok dan garpu, tergeletak begitu saja, di antara berai lauk dan nasi yang tinggal separuh di perut piring.

Baca juga: Pohon Tembuni – Cerpen A.Warits Rovi (Padang Ekspres, 21 Januari 2018)

“Kenapa Mas Jaka seperti terkejut dengan kedatangan teh ini?” tanya Ati sambil menyingkap rambutnya yang beberapa helai menjuntai ke wajahnya.

“Kenapa kau pesan teh? Dari hari-hari kemarin kan biasa jus jeruk atau air mineral saja. Aku kan sudah bilang, aku tidak suka minum teh,” suaraku agak tinggi. Ati terdiam bingung.

“O, baiklah biar aku pesan jus jeruk untuk Mas Jaka. Tadi aku lupa,” Ati bangkit setelah sedikit menggeser kursi, tapi segera kuraih tangannya.

“Tidak usah.”

“Katanya tidak suka teh?”

Arsip Cerpen di Indonesia