Rina yang semula memandang laut, alih melirik wajahku dengan sepaut senyum. Aku balik membalasnya. Kami disisir angin.
“Apa Mas Jaka kenal dengan wanita yang bernama Ati di kantormu?” pertanyaan Rina bagai kehadiran gelombang besar yang seketika datang, mengamuk pantai hingga lantak. Kutelan roti terakhir dengan rasa sesak. Sudah pasti wajahku agak pucat.
“Iya kenal. Kenapa?” suaraku dibuat agak tenang.
“Cantikkah dia?” pertanyaan Rina kain menyuruk pada sebuah tuduhan. Aku bingung hendak menjawab apa. Beruntung sebentar kemudian aku sadar, bahwa aku tak boleh terjebak dengan pertanyaan itu.
Baca juga: Memoar Pesta Pernikahan – Cerpen A Warits Rovi (Suara Merdeka, 19 Juni 2016)
“Ah! Tidak kok.”
“Tapi Mas Jaka mencintainya kan?”
“Kamu jangan menuduh sembarangan, Rin. Kalau dengar cerita dari orang hati-hati. Bisa saja orang itu hendak menghancurkan rumah tangga kita,” Wajahku menoleh agak wibawa. Bibir lancar getar bertutur, walau mata menyimpan degup kebohongan.
“Baiklah jika seperti itu, ayo silakan minum teh ini, Mas. Bukankah rumah tangga kita berawal dari peristiwa minum teh sepulang kita dari bukit Siantar? Peristiwa itu sudah menjadi sebuah kenangan indah, dan kenangan indah yang dihidupkan kembali akan menumbuhkan seribu cara pikir yang sehat,” kata Rina sambil tersenyum. Baris giginya yang putih tampak di sela juntai rambutnya yang dilinting angin. Aku pun balas senyum, bersamaan saat kutuang teh. Dan aku meneguknya atas nama kenangan.
Teh itu dingin melewati tenggorokan, lintasi dada dan entah bermukim di mana. Pastinya ia seperti karet penghapus yang mampu membersihkan bayangan wajah Ati. Lalu kami tertawa dalam senda, membuat anak-anak yang tengah membuat rumah-rumahan pasir itu menoleh.
Baca juga: Pusara Ibu Enju – Cerpen A Warits Rovi (Republika, 29 Maret 2015)
“Ini rumah kita, Pi, Mi. Rumah kebahagiaan,” ucap si sulung berteriak.
***
Aku selalu tak alpa membawa sebotol teh buatan Rina ke kantor, teh itu tekun menyulut sumbu kenangan indah kami hingga menyala, dan kenangan indah—sebagaimana yang diungkapkan Rina—bisa menumbuhkan seribu cara berpikir yang sehat. Sebab itulah setiap kali aku minum teh, wajah Rina akan membayang, menarik lembut tanganku pada jazirah hidup yang diridaiNya.
Sudah berkali-kali aku menolak ajakan Ati untuk makan bersama. Aku pun tak menggubris cakapnya kecuali yang berhubungan dengan urusan kantor. Setiap tegukan teh yang kuminum di kantor, bisa menjauhkan jarak hatiku dengan hati Ati. Hari-hari kami semakin renggang, seolah kembali ke awal mula, hanya kenal sebatas obrolan kantor.