“Biar aku tidak minum saja.”
“Lho? Atau mungkin air mineral, Mas.”
“Tidak!”
Saat Ati duduk kembali, wajah Rina menyembul dari warna teh dalam gelas itu, kian tampak bibirnya, hidungnya, rambutnya, dan tentu matanya yang berkedip menaruh curiga. Aku gemetar. Spontan tangan kananku melempar gelas itu ke lantai.
“Tarrrrr!!”
Baca juga: Kalender Baru – Cerpen A. Warits Rovi (Kedaulatan Rakyat, 07 Januari 2018)
Air teh mengalir pelan, rembesi sekitar pecahan gelas yang berserak. Semua mata dalam depot tertuju kepadaku.
“Mas! Apa yang kau lakukan?” bentak Ati dengan suara nyaring.
***
Semua yang menjejal kepala kutumpah di sini, bersama Rina dan dua anakku. Cukup kurasa pantai Lombang ini jadi labuh segala penat. Terlebih setelah peristiwa di depot, ketika spontan segelas teh kubanting, lantas orang-orang menyebutku orang gila dan orang pikun. Ati memarahiku sepanjang jalan pulang ke kantor.
Di sini, kami beralas tikar karet tebal, di bawah pangkal cemara yang pohonnya bercabang dan penuh lekuk dengan rimbun daun memayungi kami dan meluruhkan daunnya satu-satu. Rina mengeluarkan bekal makanan dari tas, anak-anak sudah kuyup berendam air di bibir pantai, menghadang ombak, melerai buih dengan jemarinya.
Baca juga: Burung-burung Ababil di Langit Kota – Cerpen A Warits Rovi (Media Indonesia, 06 Agustus 2017)
“Ayo nikmati, Mas!” lirih suara Rina dihempas angin. Beberapa makanan ringan sudah tersaji di beberapa mangkuk dan stoples. Lalu Rina menuang teh dari termos kecil ke mulut gelas, hunjam alirnya membuih putih dan bening, lalu mengapung dan lenyap di permukaan saat air teh itu tenang. Rina meneguk lebih dulu, masih seperti dulu, seperti saat senja hari sepulang dari bukit Siantar.
“Ayo, Mas! Kenapa tidak diminum? Apa sudah bosan kepada teh?” tanya Rina sambil mendekatkan posisi gelas di hadapanku.
“Tidak, Rin. Biar nanti setelah makan roti ini,” jawabku bersamaan dengan jariku yang memungut sepotong roti. Anak-anak riuh kejar-kejaran. Muda-mudi berswafoto dengan latar hamparan pasir putih berpagar banjar pohon cemara. Matahari bagai terpaut mengerami rimbun cemara.
“Boleh kutanya sesuatu, Mas?”
“Boleh sekali!”
“Jawab dengan jujur ya, Mas!”
“Pasti.”