Membaca Jalan Pikiran Ibu

Ibu sebenarnya lebih layak mengkhawatirkan kakakku. Sejak lulus SMK belasan tahun silam, ia hanya tinggal di rumah dan nyaris tak pernah bekerja secara serius. Menurut cerita yang pernah kudengar, di masa kecilnya kakakku pernah mengalami beberapa kejadian yang menimbulkan trauma dan membuat pertumbuhan otaknya mengalami gangguan. Usianya sepuluh tahun di atasku, tapi sikap dan tingkah lakunya mungkin seperti lima belas tahun lebih muda dariku. Cuma sesekali ia pernah membantu kakakku yang lain ketika sempat membuka bisnis warung ayam bakar. Namun, ketika usaha tersebut berhenti, kakakku pun hanya bergeming di rumah lagi. Kegiatannya di rumah adalah memasak, membersihkan lantai, dan pekerjaan rumah tangga lainnya. Selebihnya duduk membaca koran dan menonton televisi, acara favoritnya adalah sinetron dan berita selebritis. Selama masih ada Ibu, tentu tiada masalah dengan pemenuhan keperluan sehari-harinya. Kakakku orang yang tahu diri dan beruntunglah ia tidak memiliki hasrat membeli beragam barang. Seperlunya saja ia mengeluarkan uang.

Aku mengerti bahwa kakakku adalah perempuan yang sebenarnya memiliki mental yang kuat. Masih kuingat benar dialog di antara kami pada sebuah malam. Ketika ibu kami terus terlelap, aku sempat menanyakan opininya apabila beliau akhirnya tutup usia. Dan ternyata jawaban kakakku cukup mengejutkanku.

Baca juga: Arumi Masih Menanti – Cerpen Luhur Satya Pambudi (Suara Merdeka, 13 Maret 2016)

“Jika itu yang terbaik buat Ibu, aku ikhlas saja. Ketimbang melihat Ibu terus menderita begini.”

Padahal biasanya ia begitu mudah menangis melihat adegan di sinetron serial kesayangannya. Sehabis jawaban terdengar dari kakakku, Ibu ternyata membuka matanya dan mengisyaratkan ingin tahu apa yang kami bicarakan. Maka terjadilah dialog terakhir antara aku dan ibuku dengan disaksikan kakakku.

“Ibu masih punya semangat hidup, kan?” tanyaku.

“Masih, dong,” sahut Ibu tanpa kuduga. Sehabis itu beliau terus menutup matanya, hingga kami membawa ke rumah sakit. Sempat sekali lagi ibuku membuka mata dan mengucapkan terima kasih tanpa suara, tepatnya ketika aku pamit pulang, sehabis semalaman menungguinya di kamar rawat inap. Tak lama sesudahnya, Ibu pun hijrah ke alam barzakh.

***

Arsip Cerpen di Indonesia