Sekian bulan sepeninggal Ibu, kakakku menerima tawaran bekerja dari kakak tertua kami dan suaminya. Pekerjaannya tidak berat karena organ tubuh yang paling penting digunakan adalah mata dan tangan, yang tentu mesti disertai kesabaran dan ketelitian. Kakakku bukanlah perempuan yang biasa berpangku tangan, maka kami semua mendukungnya dan percaya ia sanggup melaksanakan tugasnya. Benar saja, kakakku berhasil menjawab tantangan dari saudara-saudaranya. Ia bahkan senantiasa bersemangat sekali saban pagi tiba, berangkat ke tempat kerja dengan mengayuh sepeda, hingga pulang ke rumah menjelang petang.
Baca juga: Riwayat Harjuna dan Teman Perempuan – Cerpen Luhur Satya Pambudi (Suara Merdeka, 17 Juli 2016)
Kami semua baik-baik belaka nyatanya hingga kini menginjak sepuluh tahun sejak kepergian Ibu. Apa yang dikhawatirkan beliau ternyata bukanlah problema krusial bagi kami. Kesulitan ekonomi memang menjadi masalah yang adakalanya mengemuka. Hal itu tak pernah terjadi ketika kedua orang tuaku masih ada, juga setelah Ayah meninggal dunia. Namun, rezeki bisa hadir dari mana saja dan berulang kali hal itu terjadi. Sehabis gelap selalu ada terang, kemudahan pasti datang menggantikan kesulitan. Tak boleh hilang semangatku menjaga asa dan terus meyakini pertolongan Ilahi bakal hadir senantiasa. Hal-hal positif yang terjadi sehabis Ibu pergi menyadarkanku bahwa bisa jadi itulah jawaban Tuhan atas segala doa perempuan kesayanganku sepanjang hayatnya. Dahulu kala Ibu pasti tak pernah lelah berdoa dan berjuang melakukan apa saja demi kebahagiaan dan kesejahteraan hidup anak keturunannya.
Dalam kesendirian masih banyak hal yang dapat kunikmati sekaligus kusyukuri. Sejumlah kegiatan baru ternyata menghadirkan orang-orang yang berarti dalam hidupku. Di antara mereka terdapat sejumlah perempuan yang sempat menjadi kawan baikku, kendati belum ada yang menjadi kekasihku. Perempuan yang dulu—belasan tahun silam—pernah kucinta dan kupuja, lantas sempat kembali kujumpa, ternyata tak mampu mengembalikan perasaan dari masa lalu. Kami sebatas dekat sesaat, kemudian tiada koneksi lagi sehabis itu. Aku sebatas sempat tertarik pada dua atau tiga nama, tapi tak kunjung merasakan jatuh cinta sebagaimana ketika berusia belasan atau dua puluhan.
***
Baca juga: Menjelang Kepergian Ibunda – Cerpen Luhur Satya Pambudi (Suara Merdeka, 3 Januari 2016)
Sebelum menutup mata selamanya, Ibu semacam memberikan pesan kepadaku agar senantiasa menjaga perasaan orang lain dan sudi peduli nasib sesama manusia. Setelah sempat tidak tidur semalaman sebagaimana terjadi di awal kisah ini, Ibu akhirnya bisa beristirahat saat menjelang siang hingga petang hari berikutnya. Bu Adi, tetangga dekat kami, menjenguk Ibu kala beliau tengah terlelap. Begitu ibuku terjaga dari tidurnya dan kuberitahu tentang kehadiran Bu Adi yang juga merupakan sahabatnya , beliau tampak bermuram durja. Serta-merta dimintanya aku menelepon tetangga kami agar segera datang lagi. Aku tidak langsung melaksanakannya dan sempat sedikit beralasan, barangkali Bu Adi sedang tidur siang. Namun, Ibu setengah memaksaku dan kuturuti perintahnya.