Belakangan baru kusadari bahwa Ibu merasa sudah mengecewakan sahabat yang menjenguknya, tapi gagal menemuinya. Beliau sekadar ingin Bu Adi bisa menjumpainya kala terjaga agar bisa terobati kekecewaaannya. Begitulah cara ibuku menjaga perasaan orang lain. Pada hari selanjutnya yang merupakan hari terakhir beliau berada di rumah, Ibu tiba-tiba menanyakan kabar Javier, anak angkat tetangga depan rumah kami.
“Kasihan Nak Javier, ibunya sering marah-marah sambil memukuli anak itu,” ujar Ibu sembari menatap hampa langit-langit kamarnya. Aku sempat terpana belaka mendengarnya. Apa maksud Ibu bicara seperti itu?
Baca juga: Matinya Penyembah Puisi – Cerpen Ken Hanggara (Rakyat Sultra, 19 September 2018)
“Iya, memang kasihan sekali dia. Semoga saja ibunya bisa mengubah sikapnya di masa depan. Lagi pula Javier masih punya ayah yang baik, kan? Ibu tidak perlu lagi mengkhawatirkan anak itu,” sahutku mencoba meredakan kegundahan hati ibuku.
Semula tak kupahami, mengapa manakala kondisi kesehatannya kian melemah, Ibu justru memikirkan anak tetangga. Namun, begitulah cara beliau menunjukkan kelembutan hatinya yang tansah peduli siapa saja. Nasihat tersirat ibuku sebelum wafatnya, kuharap benar aku mampu meneladaninya. Ah, tiba-tiba aku jadi kangen dengan perempuan kesayanganku yang bertubuh mungil, dengan segala kata-kata, sentuhan lembut, bahasa tubuh, perangai, maupun tindak tanduknya yang khas. Mudah-mudahan Ibu tenang di alam sana dan bahagia melihat anak keturunannya saat ini. ***
Luhur Satya Pambudi lahir di Jakarta dan tinggal di Yogyakarta. Cerpennya pernah dimuat di sejumlah media cetak maupun daring. Kumpulan cerpen perdananya berjudul Perempuan yang Wajahnya Mirip Aku (Pustaka Puitika). Ia dapat dihubungi di pos-el: lou.satyabudi@ gmail.com