Berkabung

Rencana buruk yang sangat dibenci Sak Du kembali mencuri tempat di kepalanya. Mungkinkah aku harus melakukannya? Batinnya bertanya-tanya.

Akhirnya Sak Du memantapkan niat dan segera menemui Lik Da, sahabat karib satu-satunya. Ia mendapati Lik Da sedang bersiul-siul di dekat burungnya di halaman. Sak Du berteriak dari jauh. Lik Da sontak menoleh.

“Tumben siang-siang sudah kemari,” sambut Lik Da.

“Aku butuh bantuanmu,” kata Sak Du sambil mengusap keringat di dahi.

Baca juga: Perempuan XXX – Cerpen Abul Muamar (Republika, 18 Februari 2018)

“Ada apa, Sak?”

“Aku butuh uang banyak, istriku mau melahirkan, Lik.”

“Kau tahu sendiri keadaanku seperti ini. Aku tidak bisa membantu kalau urusan uang.”

“Tidak, Lik.”

“Lalu apa?”

“Tapi risikonya sangat berat,” ujar Sak Du sedikit tertahan.

“Tak apa. Cepat katakan, Sak.”

“Kau harus mau. Hanya kau sahabatku, Lik.”

“Betul. Aku pasti bantu kalau mampu.”

Baca juga: Riwayat Haji – Cerpen Zainul Muttaqin (Republika, 12 Agustus 2018)

“Aku mau mencuri.”

“Apa? Aku tidak salah dengar, kan?”

“Tidak. Ini jalan satu-satunya.”

“Edan!”

“Tolong aku, Lik.”

“Aku tidak mau.”

“Kau mau membiarkan istri dan anakku mati?”

Lik Da terdiam, menjatuhkan tatapannya ke tanah, tangannya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Baca juga: Seperti Pagi – Cerpen Adi Zamzam (Republika, 05 Agustus 2018)

“Tak ada waktu. Kita harus bergerak cepat,” desak Sak Du.

***

Malam semakin larut dan sunyi. Bebunyian yang tersisa hanya suara binatang malam. Mereka berdua berjalan di tengah gelap. Sebilah pisau terselip di pinggang Sak Du. Sementara sepanjang jalan Lik Da terus mengusap keringat yang menetes di dahinya.

“Kau sudah yakin, Sak?” tanya Lik Da.

“Aku cukup bicara sekali, Lik,” tandas Sak Du.

“Apakah tak ada orang lain di rumah itu?”

Arsip Cerpen di Indonesia