Berkabung

“Aku tahu dirimu. Siapa yang menyuruhmu?”

“Aku tidak disuruh siapa-siapa,” ujar Sak Du sedikit tertahan.

“Baguslah kalau begitu.” Sebuah senyum terlukis di bibir perempuan itu.

“Jangan bodoh. Cepat katakan di mana kau menaruh uang dan perhiasanmu. Atau kau lebih memilih mati?” suara Sak Du semakin ditekan.

“Apakah kau tidak kasihan melihat perempuan lemah dan kesepian sepertiku ini? Bukankah kau orang baik-baik.” Perempuan itu terus berkata seolah ia mengenal siapa yang sedang menodongnya.

Baca juga: Obituarium Origami – Cerpen Risda Nur Widia (Republika, 02 September 2018)

Sak Du gemetar. Kali ini ia tidak bisa mengendalikan diri. Pisau di tangannya ikut gemetar. Dia teringat istrinya.

“Aku perlu uang buat biaya istriku melahirkan,” ujar Sak Du lirih. Kalimat itu seperti meluncur begitu saja. Ia menunduk dan pisau di tangannya jatuh di ranjang.

“Aku akan memberikan seluruh uang dan perhiasanku padamu,” kata perempuan itu.

Sak Du kaget.

“Tapi kau harus menusukkan pisaumu padaku,” tambah perempuan itu.

“Apa makusudmu? Kau mau mati?” tanya Sak Du.

Perempuan itu tak menjawabnya. Pelan ia melepas pakaian tidurnya di depan Sak Du. Sekujur tubuh Sak Du kembali gemetar. Jantungnya berdegup kencang. Benar dugaannya, janda ini hanya kesepian, tidak gila.

Baca juga: Danau dan Sepotong Cerita – Cerpen Fina Lanahdiana (Republika, 23 September 2018)

Di luar, Lik Da menunggu Sak Du sambil ketakutan. Sekujur tubuhnya basah oleh keringat. Sementara itu, seorang peronda yang memergoki Sak Du dan Lik Da masuk ke pekarangan rumah perempuan tadi, segera memberi tahu Pak RT dan beberapa warga.

Di kejauhan, Lik Da menyaksikan beberapa lampu senter berlesatan. Juga segerombol orang yang berjalan setengah berlari. Semakin lama semakin dekat ke arahnya. Cepat-cepat ia melempar kerikil ke genting. Tapi tak ada tanda-tanda Sak Du keluar dari jendela. Kemudian ia melempar kerikil itu lagi dan lagi.

Sak Du belum juga menampakkan batang hidungnya. Lik Da semakin takut. Orang-orang semakin mendekat. Akhirnya ia memilih pergi, melompat pagar dan berlari sekencang-kencangnya.

Pak RT dan beberapa warga sudah di depan rumah perempuan itu. Sejurus kemudian terdengar sebuah teriakan dari dalam. Orang-orang langsung menerjang pintu dan menghambur ke dalam.

Di atas ranjang, orang-orang mendapati tubuh telanjang Sak Du berlumuran darah, dengan pisau menancap di dadanya. Sementara perempuan itu, duduk di sisi ranjang sambil tertawa.

 

Faruqi Umar, lahir di Sumenep, 9 April 1993. Kini tinggal di Sidoarjo, Jawa Timur. Sehari-hari ia bekerja sebagai buruh pabrik.

Arsip Cerpen di Indonesia