Berkabung

“Perempuan itu sudah janda. Dia juga orang perantauan seperti kita. Saudara-saudaranya pun jauh di kampung.”

“Tapi… aku takut.” Tangan Lik Da gemetar.

“Aku yang masuk ke dalam. Kau tunggu saja di depan. Kalau ada bahaya beri aku sinyal.”

“Aku akan melempar kerikil ke genting, ya,” ujar Lik Da.

Sak Du melilitkan sarung ke leher dan kepalanya, membentuk sebuah penutup wajah. Langkahnya diatur sangat pelan sambil kakinya menjinjit agar tidak menimbulkan suara. Ia sudah sampai di sebuah jendela rumah itu.

Baca juga: Angku Zainal – Cerpen Adam Yudhistira (Republika, 26 Agustus 2018)

Pelan Sak Du mencongkel jendela itu, lalu mendorong jendela itu lebar-lebar sebelum meloncat ke dalam.

Sak Du sudah berada di ruang depan. Ia berjalan ke kamar perempuan itu. Sekali ia memutar gagang pintu, pintu sudah terbuka. Tatapan matanya segera dilempar ke sebuah ranjang. Perempuan itu sedang tidur. Sebuah selimut menutupi sekujur tubuhnya.

Pelan Sak Du menghampiri perempuan itu. Dengan sigap ia membekap mulut perempuan itu dengan tangan kekarnya, lalu menempelkan sebilah pisau di lehernya.

“Jangan teriak. Atau lehermu akan putus,” ancam Sak Du.

Perempuan itu menyingkap selimut dan duduk menghadap Sak Du. Pisau itu masih di dekat lehernya.

Baca juga: Lelaki Pengurus Orang Mati – Cerpen Risen Dhawuh Abdullah (Republika, 16 September 2018)

“Kamu mau apa dariku?” tanya perempuan itu. Matanya memancar, seperti tak ada aura ketakutan di wajahnya.

“Uang,” kata Sak Du.

“Aku tidak punya,” jawab perempuan itu.

“Jangan bohong, aku tahu kau punya banyak perhiasan dan uang.”

“Tunggu. Apakah aku mengenalmu?”

“Kau tak perlu tahu.”

Sak Du semakin menekan pisaunya ke leher perempuan itu. “Cepat katakan di mana kau menaruhnya?” desak Sak Du.

Baca juga: Sarung untuk Bapak – Cerpen Arie Fajar Rofian (Republika, 09 September 2018)

“Aku mengenalmu.” Perempuan itu menatap dengan lekat.

“Kau tak mengenalku,” ujar Sak Du. Ia segera menyembunyikan kegugupannya. Kemudian, Sak Du memindahkan pisaunya ke perut perempuan itu. “Kau mau mati?” ancamnya lagi.

“Kau tak akan menusukku,” kata perempuan itu penuh keyakinan.

“Aku tidak bercanda.”

Arsip Cerpen di Indonesia