Gadis Kecil Bernama Alenia

Sejurus kemudian semakin banyak yang masuk ke kamar saya. Teman-teman, keluarga, istri, bahkan mungkin wartawan juga ada. Hal ini membuat saya semakin bingung. Ada apa dengan saya sebenarnya? Mengapa saya tidak bisa mengingat satu hal pun tentang rentetan kejadian ini? Apa hubungan Alenia dengan rumah sakit ini? Saya ingin tanyakan ini semua pada mereka. Tapi, saya tidak tega, mereka semua nampak menangis.

Kemudian perawat itu mencopot infus saya, melepas alat-alat aneh yang entah apa fungsinya. Saya semakin heran, saya ingin tanyakan ini semua tapi suara saya sangat berat untuk keluar. Samar-samar saya hanya bisa mendengar percakapan orang-orang,

“Kasihan ya semuda itu…”

“Kasihan juga istrinya sedang mengandung anak pertamanya.”

“Anaknya bakal yatim.”

“Tuhan memanggil orang-orang baik lebih dulu.”

Baca juga: Mematikan Lagarise – Cerpen Caroline Wong (Media Indonesia, 16 September 2018)

“Dia memang baik.”

“Apakah keluarga sudah yakin?”

“Benar, Dok, ini pesan almarhum. Dan memang hanya ini kemaunnya.”

Baiklah saya mulai mengetahui alur cerita ini. Potongan ingatan mulai menyatu dalam kepala saya. Kemanusiaan, rumah sakit, kecelakaan minggu lalu. Semua mulai kembali ke tempat masing-masing.

“Jantungnya akan didonorkan?”

“Benar, Dok.”

Saya semakin yakin satu hal: Alenia, gadis kecil itu, entah saya pernah mengenalnya di mana, atau barangkali saya memang belum pernah bertemu dengannya. Tapi saya tahu arti senyumnya,

Arsip Cerpen di Indonesia