“Ini belum seberapa. Harumnya surga jauh melebihi wewangian ini.” Laki-laki misterius itu bicara seraya mengibaskan bajunya. Ternyata Haji Ismail sadar, wewangian itu berasal dari tubuh laki-laki aneh itu. Tidak terpikirkan oleh Haji Ismail, bagaimana mungkin laki-laki berpakaian lusuh, bertubuh kusam itu bisa mengeluarkan aroma wangi selembut itu.
“Tidak semua yang kamu lihat buruk mengeluarkan aroma busuk.” Ucapan laki-laki itu kembali membuat jantung Haji Ismail terasa tak normal. Haji Ismail menelan ludah. Laki-laki misterius itu kini tertawa terpingkal-pingkal seperti menertawakan ketololan Haji Ismail.
Baca juga: Sebutir Peluru dalam Salat – Cerpen Zainul Muttaqin (Tribun Jabar, 03 Desember 2017)
Laki-laki itu memperkenalkan diri dengan nama Amal. Ia mengeluarkan tujuh kunci dari dalam saku bajunya. Kunci-kunci itu diletakkan berjejer di atas meja. Dilihat dari model dan bentuknya tentulah kunci-kunci itu bukan buatan pabrik. Tidak ada kemiripan dengan kunci pintu yang dijual di pasar. Sukar dijelaskan seperti apa bentuk dan model kunci itu, yang jelas tak seorang pun dapat mendeskripsikannya.
Haji Ismail melipat keningnya, dan ia pun mengajukan pertanyaan, “Kamu mau jual kunci pada saya?”
“Kamu akan mendapatkan satu kunci di antara tujuh kunci itu.” Perkataan Amal dingin. Suaranya ditekan. Ia terlihat serius.
Amal menjelaskan bahwa dia adalah penjaga pintu surga. Hanya Amal yang dipercaya untuk memegang kunci tujuh surga itu. Tanpa kunci-kunci itu tak seorang pun bisa masuk ke surga. Berbinar-binar wajah Haji Ismail merasa beruntung karena Amal mengantarkan langsung kunci surga itu kepadanya, bahkan lelaki yang sudah lima kali naik haji itu diperbolehkan memilih satu kunci untuk membuka pintu surga mana yang ingin dimasukinya.
Baca juga: Pelajaran di Dalam Penjara – Cerpen Zainul Muttaqin (Padang Ekspres, 14 Januari 2018)
Tangan Haji Ismail hendak meraih semua kunci itu. Tapi tiba-tiba Amal dengan sangat cepat memasukkan kembali kunci itu ke kantong bajunya. Amal mengatakan kepada Haji Ismail akan kembali bertamu ke rumahnya tujuh hari lagi untuk memberikan salah satu kunci pintu surga yang ia simpan rapat-rapat dalam kantongnya itu. Haji Ismail mengangguk sekalipun kecewa bersarang di dadanya. Tak apalah, yang terpenting kunci surga itu pasti diberikan. Haji Ismail bergumam.
Amal bangkit dari duduknya. berjalan tertatih-tatih memegang tongkatnya di sebelah tangan kanan. Ia tidak kelihatan lagi saat Haji Ismail baru saja mengedipkan matanya. Haji Ismail kembali ke kamar. Ia memilih tidur ketimbang salat Tahajud.