Laki-laki yang Datang dari Surga

LEBIH tujuh hari dinanti-nanti kedatangannya belum juga Amal muncul di rumah Haji Ismail. Malam kesepuluh Haji Ismail menunggu di teras rumah. Ia melihat Amal hanya lewat di depan rumahnya. Haji Ismail memanggil Amal agar mau bertamu ke rumahnya, menunaikan janjinya memberikan kunci surga. Tapi tidak sedikit pun Amal menoleh, ia terus berjalan, tergesa-gesa menyeret kakinya yang telanjang untuk segera sampai pada tempat tujuan.

Baca juga: Pernikahan Malaikat – Cerpen Zainul Muttaqin (Merapi, 10 Agustus 2018)

Haji Ismail mengikutinya diam-diam dari belakang. Sekitar empat puluh lima menit Amal berjalan. Ia tiba di sebuah warung remang-remang, di dalamnya dihuni oleh perempuan-perempuan seksi dengan rok di atas lutut dan belahan dada yang dipertontonkan kepada semua pengunjung. Haji Ismail tahu, itu tempat pelacuran. Jika memang Amal datang dari surga untuk memberikan kunci surga kepada manusia yang dikehendakinya, kenapa ia masuk ke tempat pelacuran? Haji Ismail menggelengkan kepala seraya mengucap istigfar berkali-kali.

Dengan mata kepalanya sendiri Haji Ismail menyaksikan Amal mengeluarkan kunci dari kantong bajunya yang sebelah kanan. Ia membagi-bagikan kunci, yang disebut-sebut sebagai satu-satunya pembuka pintu surga kepada beberapa pelacur dan seorang pemabuk di dalam warung itu. Tak lama setelah itu, Amal keluar. Masih tersisa satu kunci di dalam saku bajunya. Haji Ismail berpikiran, pasti kunci itu akan diberikan kepadanya mengingat ia merasa memang pantas menerima kunci pembuka pintu surga itu.

Baca juga: Laki-laki di Ketiak Istri – Cerpen Zainul Muttaqin (Lampung Post, 22 Juli 2018)

Laki-laki yang mengaku datang dari surga sebagai utusan untuk memberikan kunci pintu surga kepada manusia itu berjalan ke arah timur. Ia berjalan terus sampai akhirnya menemukan rumah pasangan muda-mudi yang dulu dipermalukan oleh warga. Keduanya sudah menikah sebulan lalu. Amal mengetuk pintu. Ia disambut oleh lelaki muda itu. Amal menolak ketika lelaki muda itu mempersilakannya masuk. Amal hanya memberikan kunci surga itu kepadanya.

Itulah dua pemandangan yang dilihat oleh Haji Ismail dan membuat dia kehilangan cara berpikir untuk mengungkapkan keheranan terhadap apa yang diperbuat Amal. Akan tetapi, malam itu, saat bulan merangkak pelan-pelan di dinding langit, setelah mengumpulkan nyali yang cukup besar, Haji Ismail berteriak lantang. Ia tidak terima terhadap apa yang sudah dilakukan Amal. Haji Ismail meminta keadilan karena ia sudah lima kali berhaji, juga karena orang-orang menjadikannya panutan, tapi kenapa Amal tak memberinya kunci pintu surga itu sama sekali. Malah para pendosa mendapatkan kunci surga itu secara cuma-cuma.

Arsip Cerpen di Indonesia