Kepercayaan itulah yang membuat Simbah benar-benar tak pernah meninggalkan salat lima waktu karena dialah penyeru bagi orang-orang agar mengingat Tuhan. Kecuali saat berada di tempat tertentu dalam keadaan tertentu, seperti berkunjung ke desa lain, Simbahlah yang jadi muazin. Orang-orang, termasuk aku, menyukai lantunan azan Simbah. Suaranya indah, halus, pas. Cara dia memainkan nada begitu unik, sedikit bercampur langgam Jawa.
Karena kemerduan dan keunikan itu, tak pernah ada yang protes saat Simbah azan. Azan Simbah sudah jadi bagian tak terpisahkan dari masjid kampung.
Baca juga: Kota-kota di Ujung Jari – Cerpen NF Rifana (Suara Merdeka, 12 Agustus 2018)
Namun manusia tak selamanya berada di puncak kejayaan. Waktu dan usia perlahan menjauhkan Simbah dari pelantang masjid. Aku masih ingat, dua tahun lalu volume suara Simbah jadi rendah, tak lagi begitu bertenaga. Pelan-pelan kejelasan pelafalan pun menurun. Kala itu aku melihat wajah Simbah tak begitu bersinar seperti sebelumnya. Barangkali dia tahu, kini giliran bagi muazin yang lebih muda.
“Memang sudah saatnya untuk kaum muda,” kata Simbah padaku. “Sana, kamu yang azan, Bu!”
Aku hanya menanggapi dengan senyum, tanpa melangkahkan kaki menuju ke masjid. Simbah bertambah sedih saat melihat kenyataan tak ada muazin tetap sebagai penerus. Masjid sepi karena hampir tak ada orang mau berazan. Orang-orang usia paruh baya, remaja, hingga anak kecil tak tertarik mendekati pelantang. Mereka sibuk bekerja dan bermain. Akibatnya, jumlah jamaah pun menyusut. Jika sudah masuk waktu salat, hanya ada beberapa orang berjamaah tanpa azan lebih dulu.
Bapak menuruni kelembutan suara Simbah. Dia juga mau mendekati pelantang. Sering kali dia menggantikan Simbah sebagai muazin, terutama saat sarung kebanggaan beliau dicuci. Namun pekerjaan membuat Bapak jauh dari kampung. Dia hanya bisa melantunkan azan di masjid kampung saat pulang.
Baca juga: Percumbuan Topeng – Cerpen S Prasetyo Utomo (Suara Merdeka, 02 September 2018)
“Kamu bekerja di sini sajalah, Man, biar ada yang jadi muazin di masjid kampung,” pinta Simbah saat Bapak pulang kampung. Bagiku, itulah buah kegelisahannya.
“Tidak bisa, Pak. Jika aku di kampung, siasialah apa yang sudah kukerjakan,” jawab Bapak.
Kulihat mata Simbah jadi sayu saat mendengarnya.
Keadaan masjid kampung tetap seperti itu; kehilangan muazin yang bisa mengajak orang-orang mendekat ke rumah Tuhan. Azan makin jarang terdengar lewat pengeras suara masjid. Jika ada, yang melantunkan malah para musafir yang singgah untuk sembahyang dan beristirahat sejenak.