Sarung Azan Simbah

Hari demi hari kulihat Simbah makin sedih. Raganya makin tua dimakan usia, dan kurasa perasaannya tak bertambah tenang. Aku sedih saat suatu petang dia berusaha mendekati pelantang lagi. Dia mengucapkan takbir dan syahadat dengan pelan. Lalu saat masuk hayya ‘alaasshalaah, dia terbatuk-batuk, tak kuat melanjutkan.

Aku tak mampu melihat kejadian itu. Ada semacam keinginan menjadi muazin tetap masjid. Namun sebagian diriku menolak. Ada keraguan besar yang hadir dan menghalangi. Sebelumnya, Simbah juga telah berkali-ulang membujuk aku dan Adik menjadi muazin, hampir setiap hari malah. Namun berkali-ulang pula Simbah harus menelan pil pahit; aku dan adikku tak mengiyakan permintaannya.

Baca juga: Tujuh Anjing Penjaga – Cerpen Ken Hanggara (Suara Merdeka, 19 Agustus 2018)

“Kamu kok tidak mau jadi muazin kenapa?” tanya Simbah.

“Suaraku jelek, Mbah, tak sebagus Simbah atau Bapak. Orang lain pasti punya suara lebih baik,” balasku.

“Itu bukan alasan yang bisa diterima, Abu.”

“Bukankah dianjurkan memilih muazin bersuara indah, Mbah?”

Aku masih mencari alasan untuk membela diri, sementara Simbah menghela napas.

“Yang terpenting bukan itu, Abu. Sebagai muazin pilihan Nabi, Bilal memang punya suara begitu indah. Namun Nabi tentu tak hanya memilih karena hal itu. Lihatlah pula bagaimana keteguhan Bilal memeluk Islam dan berjuang untuk cinta-Nya kepada Allah. Itulah yang seharusnya kamu jadikan keyakinan. Dalam melantunkan panggilan-Nya, ketulusan dan kecintaanmulah yang seharusnya jadi pemicu untuk mengajak orang lain mendekat. Jika niatmu begitu, suaramu pasti menyenangkan didengar,” ujar Simbah lirih.

Baca juga: Sebuah Pesan dan Bemo yang Memikat – Cerpen Galang Hutriadi (Suara Merdeka, 09 September 2018)

Aku tak bisa menjawab lagi.

Simbah terus melemah, sementara aku tetap tak mau menjadi muazin dan membiarkan masjid makin sepi. Kini Simbah sudah tak mampu berjalan, kecuali dibantu. Suaranya pun begitu lemah, sehingga tak bisa didengar, kecuali kita mendekatkan kuping ke mulutnya.

Ah, rasanya aku ingin meminta maaf pada Simbah atas ketegaanku tak mengiyakan permintaannya. Selama ini Simbah hanya meminta hal itu padaku. Tak pernah meminta yang lain. Dia tidak jadi kekanak-kanakan seperti orang-orang lain yang sudah lanjut usia. Mungkin juga Simbah seperti itu, tetapi mampu menutupi kesedihan.

Aku memandangi wajah renta Simbah lagi. Kali ini, kesedihan sama sekali tidak tampak di sana.

Arsip Cerpen di Indonesia