Sarung Azan Simbah

Aku keluar kamar, memandang ke luar rumah. Hujan masih cukup lebat. Sekarang sudah petang, jam dinding menunjukkan pukul 17.40. Astaga, aku belum salat asar. Ketiadaan azan di masjid membuatku sering lupa waktu salat.

Spontan aku mengambil sarung kebanggaan Simbah yang tersampir di dekat lampu. Aku berwudu dan salat di kamar sebelah. Sesaat setelah mengucapkan salam, aku mendengar suara azan dari kamar Simbah. Suara itu begitu kukenal, meski sudah lama tak kudengar. Tanpa menunggu lama, aku langsung ke sana. Kujumpai Simbah masih memejamkan mata. Namun bibirnya bergerak melafalkan kalimat demi kalimat azan begitu jelas.

Baca juga: Ibu, Ayah di Mana? – Cerpen Fahmi Abdillah (Suara Merdeka, 30 September 2018)

Asyhadu an laa illaaha illallaah/Asyhadu an laa illaaha illallaah/Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah/Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah

Setelah dua kalimat syahadat itu, Simbah berhenti. Matanya perlahan terbuka. Dia memandang ke arahku yang memakai sarung kebanggaannya.

“Kamu sudah siap. Kamu lanjutkan,” ujarnya lirih, sebelum kembali memejamkan mata.

Aku memegang tangan Simbah dan memanggil-manggilnya. Namun dia hanya diam. Tak ada hayya ‘alaas-shalaah keluar dari mulutnya. (28)

 

Marcapada, 8 September 2018: 21.54 WIB

Abu Rifai, kelahiran Pati, 23 April 1999, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Inggris Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang.

Arsip Cerpen di Indonesia