Semua yang kulihat di benang itu hanya gelap tanpa cahaya. Hanya hitam seperti malam tanpa bulan, tanpa bintang, tanpa obor, bahkan tanpa kunang-kunang.
Aku mencari cahaya dalam penglihatanku seperti seorang ibu mencari anaknya yang hilang. Di mana terang yang seharusnya ada sebagai penyeimbang kehidupan? Lalu aku mendapatkan sedikit cahaya yang bersembunyi di selatan. Seorang perempuan muda yang akan menghentikan segala kekacauan yang ada. Perempuan dari selatan dengan tulisan asingyang terpatri di dadanya. Tulisan yang hanya dipahami oleh kehidupan dan oleh aku si penglihat benang.
Baca juga: Kekasih dari Bulan – Cerpen Rosi Ochiemuh (Pikiran Rakyat, 02 September 2018)
***
AKU lanjutkan ceritaku dulu. Kau harus mendengarkanku karena itulah satu-satunya cara agar segala bencana ini berakhir. Sebagai abdi kerajaan, tentu saja aku mencintai Maja. Aku lahir, belajar, dewasa, menikah, dan bekerja di Maja. Aku mengagumi gunung agung Maja, hijau pohon pinus, angin kencang dari utara, laut luas di selatan, lebih dari segala yang kukagumi dari lekuk tubuh istriku.
Maka hanya kengerian yang kurasakan saat aku menatap benang takdir itu. Aku memutuskan untuk menyampaikan semuanya pada Raja Maja. Akan tetapi, ia malah mengusirku dan membuatku mengasing di tanah tak bernama ini. Raja tak percaya dan tak mau percaya sehingga ia menganggapku dungu seperti keledai dan mengusirku dari hadapannya seakan aku adalah kucing yang mencuri ikan di dapur pribadinya.
Baca juga: Kisah Pilu tentang Seutas Tali – Cerpen Sam Edy Yuswanto (Pikiran Rakyat, 10 Juni 2018)
Aku bertahan bertahun-tahun di tempat ini tanpa ditemani siapa pun. Seakan-akan segala hal yang telah kulakukan demi kerajaan tak berarti seperti buah buruk yang telah dimakan kelelawar. Raja bahkan tak mengizinkan istriku untuk ikut dalam pengasinganku. Jauh dari sini, aku bisa melihat Raja menjadikan istriku selir terbarunya. Tentu saja itu menyakiti hatiku. Akan tetapi, hatiku lebih sakit menatap Maja yang kucintai sedang berjalan menuju ramalan yang telah kuperingatkan.
Aku mendengar kabar dari burung bahwa Raja telah menyesal atas perbuatan tidak baiknya kepadaku. Ia memerintahkan beberapa pasukan untuk menjemputku, tapi mereka tidak menemukanku seolah-olah aku adalah hantu.