Raja memerintahkan beberapa pasukan lagi untuk menjemputku dan menjemput tentara yang tak kembali, tapi mereka tidak menemukan kami seolah-olah kami adalah hantu. Raja memerintahkan hal serupa, tapi hasilnya tetap sama. Setiap bulan, pasukan akan dikirim dan takkan kembali. Aku mengirimkan pesan pada daun-daun gugur bahwa hanya seseorang yang dikatakan dalam ramalaniah yang bisa menemukanku.
***
RAJA mendengar pesanku setelah bertahun-tahun. Ia menghentikan pengiriman pasukan, dan mulai mencari seseorang dalam ramalan. Setiap perempuan muda di selatan akan dilihat dadanya. Mereka pun menemukan itu di dada ranummu. Mereka bersujud di hadapanmu dan memintamu mencariku agar segala bencana ini berakhir. Mereka berjanji akan menghadiahkan apa pun yang kau minta asal kau mengucapkan iya.
Baca juga: Sebuah Kamar Rahasia – Cerpen Deden Hardi (Pikiran Rakyat, 15 Juli 2018)
Tapi kau adalah pecundang karena mengatakan iya dengan cepat seperti seorang perawan tua yang dilamar oleh pangeran, meski kau tahu tentang tentara yang tak kembali, dan kau tak merasa harus menjadi salah satu dari mereka. Kau pecundang karena merasa ditakdirkan untuk menjadi pahlawan dalam ramalan, meski kau merasa bahwa ramalan hanyalah dongeng yang diceritakan nenek moyang.
Kau pecundang karena berangkat dengan segera tanpa bala tentara, meski kau tak tahu arah angin mana yang akan menuntunmu padaku. Kau adalah pecundang karena kau menempuh perjalanan dengan semangat, meski kau tak percaya apakah kau akan selamat Kau adalah pecundang karena telah membunuh naga penjaga tempatku, meski kau pikir kaulah yang terbunuh. Kau adalah pencundang karena telah tiba di sini.
***
Baca juga: Tentang Kerudung Baru Impian Ibu – Cerpen Sandza (Pikiran Rakyat, 01 Juli 2018)
KAU bersujud di hadapanku. Kau memperkenalkan diri sebagai utusan kerajaan dan utusan takdir. Kau mengatakan tentang kerajaan yang hancur seperti ramalanku. Kau bercerita tentang rakyat yang meminum darah saudaranya sendiri.
Kau menggambarkan angin topan dan gempa bumi yang datang sebulan sekali seperti darah dari kemaluan perempuan. Kau menyampaikan salam dan maaf dari Raja untukku. Aku mempersilakan kau duduk dan memberikanmu air bersih yang sudah tak kau temukan sejak lama. Kau meminum dengan sekali teguk. Kau mengucapkan terima kasih, Kau meminta petunjukku tentang apa yang kehidupan wariskan padamu. Aku memintamu untuk menunjukkan tulisan yang terpatri di dadamu, karena hanya dari sanalah aku bisa menafsirkan takdirmu.