Sostel dan Sayur

“Tapi kita tidak tahu makanan itu higienis atau tidak, Sayang. Makan sayur saja, ya.”

“Enggak.”

Bahkan Dinda tak mau makan bekal jika menemukan sayur di dalamnya. Ia hanya memilih daging atau ikan. Jika tidak, ia akan memberikan bekalnya pada teman-teman sekelasnya. Dan tentu teman-teman sekelasnya menyambut gembira.

“Dinda, masakan Mamamu sangat lezat.”

“Capjaynya enak.”

“Oseng jamurnya sedaaap.”

Baca juga: Buah Ketekunan – Oleh Salsabila Zahratusysyita (Kompas, 16 September 2018)

Dinda cuma nyengir mendengar pujian teman-temannya. Lagi-lagi, ia lebih suka jajan sostel. Ia tak peduli meski sudah dilarang oleh Mama.

***

“Teeet teeet teeet…”

Teman-teman Dinda kembali ke tempat duduk mereka begitu mendengar bunyi bel masuk. Bu Tika segera masuk kelas VI untuk mengajar.

“Anak-anak, ayo dikumpulkan tugasnya.”

Dinda enggan mengumpulkan tugas catatan makanan empat sehat lima sempurna dari Bu Tika. Banyak bagian yang kosong di kolom catatannya. Tak ada satu pun jenis sayuran yang ia makan selama seminggu ini. Ia hanya menulis daging, ikan, sosis, dan telur.

“Kenapa Dinda?”

Baca juga: Jadilah Suporter yang Baik – Oleh Faris Al Faisal (Kompas, 07 Oktober 2018)

Dinda tak menjawab pertanyaan Bu Tika. Sedari tadi ia menahan sakit di perutnya. Dinda merasa perutnya seperti ditusuk-tusuk puluhan jarum. Wajahnya pun terlihat pucat.

“Maaf, Bu Guru, saya mau ke toilet.”

Begitu mendapat izin, Dinda bergegas lari ke kamar kecil siswa di belakang kelasnya. Ia mulas-mulas. Keringat dingin mengalir di sekitar keningnya. Setelah sepuluh menit, ia merasa lega. Namun begitu duduk di bangkunya, Dinda kembali mulas. Begitu seterusnya sampai terdengar bunyi bel pulang sekolah.

Sesampainya di rumah, Dinda tidak mau keluar kamar. Ia masih kesakitan dan lemas. Lagi pula ia malu pada Mama. Ia sama sekali tidak mau mendengarkan nasihat orang tua. Ia abai pada larangan Mamanya.

Arsip Cerpen di Indonesia