Tiomina mengangguk. Ia sengaja tidak mengenakan BH sehabis mandi. Ia mengikat ketat dadanya, memakai singlet lalu kaus oblong hitam serta jaket kulit merek luar negeri—kemungkinan Tiomina membelinya dengan cara menawar mati di pasar loak, atau bisa juga mengambilnya saja di tali penjemuran entah siapa.
“Kenapa kau melakukannya, untuk apa, di mana saja dan sejak kapan?”
Tiomina gemetar mendengar pertanyaan yang terkesan menyerang dirinya. Tampak ujung celananya goyang, sedangkan matanya terus saja menatap tanah kering karena ia berpikir sudah pasti lelaki tampan di sebelahnya itu aslinya sangatlah galak, dan ia percaya bahwa ada pistol yang siap diletuskan ke betisnya andai saja dirinya tampak menggerak-gerakkan anggota badan.
Baca juga: Akuarium Hati – Cerpen Jeli Manalu (Padang Ekspres, 11 Februari 2018)
“Ngakulah kau, Tiomina. Atau kuinjak kau sekarang?” di sebelah lelaki yang tak mengenakan seragam polisi mata Namboru Mona membesar saat kaki kanannya yang gemuk bersiap-siap menyepak badan Tiomina, dan anak lelaki Namboru Mona mengepal-ngepal tangan mengancam akan membogem habis hidung Tiomina.
Katanya sudah sangat lama Namboru Mona menyimpan rasa penasaran. Bubuk-bubuk kopinya sangat cepat berkurang, padahal kedai sepi pengunjung. Minggu lalu, misalnya, bubuk Kopi Sidikalang-nya hilang satu dus. Kopi Sipirok tiga bungkus. Dua hari kemudian bubuk Kopi Siantar lenyap dimakan sibolis (setan). “Sibolis apa?” tanya laki-laki yang terus saja memegangi tangan Tiomina, iseng. “Itu, sibolis yang tangannya kau pegang sekarang ini, Pak. Hati-hatilah Bapak. Awas nanti tangannya lepas tanpa Bapak sadari,” ujar Namboru Mona, sinis.
Baca juga: Melayang Sebutir Cahaya – Cerpen Jeli Manalu (Haluan, 24 Desember 2017)
Orang-orang ikut tertawa meski tetap dengan mata awas. Mereka pandangi Tiomina dari ujung topi sampai ujung sepatu. Mereka tak percaya dengan mata sendiri karena seseorang yang seperti lelaki itu memiliki bulu mata lentik. Bibirnya mirip kelopak bunga kesumba yang lagi rekah meski sebenarnya ia tak mengenakan gincu, atau pun bedak, atau pun anting yang menandakan ia perempuan sungguhan dan tak perlu menelanjanginya untuk mengetahui itu, dan ia gadis berusia dua puluh dua dengan jiwa yang cepat membara saat mengetahui Mamak diperlakukan secara tidak baik serta disingkirkan dari lingkaran keluarga besar kakeknya sejak lama.