Mamak seharusnya memiliki sebidang sawah (bukan sawah warisan), meski dulunya itu memang milik keluarga kakek Tiomina. Begini ceritanya. Suatu hari ketika Mamak dan Bapak menjadi buruh pabrik di kota nun jauh, Nenek menderita sakit-sakitan. Dokter menyarankan Kakek agar Nenek menjalani operasi. Kakek yang waktu itu tak memiliki tabungan segera menggadaikan sebidang sawah kepada orang lain. Uang cair. Nenek dirujuk ke rumah sakit pusat. Namun setelah Nenek menjalani pengobatan dan pada akhirnya mati juga lalu Kakek tak sanggup lagi menebus sawah itu, Kakek berunding dengan anak-anaknya karena tak ada yang bersedia menebus sawah. Jawab mereka tak ada uang. Ada pun untuk keperluan itu-ini. Mamak yang sebagai anak sulung dan merasa bertanggungjawab akan hal itu, menjual sepuluh mayam emas perhiasan: kalung, anting, cincin, gelang. Saat itu Kakek berpesan, sawah tersebut menjadi milik Mamak seutuhnya. Namun karena Mamak dan Bapak tinggal di kota jauh, Mamak menganjurkan agar adik tirinya saja yang menggarapnya.
Baca juga: Aku Melihat Ranggas Terbakar di Mata Butet – Cerpen Jeli Manalu (Media Indonesia, 27 Agustus 2017)
Puluhan tahun Mamak tak pernah menikmati hasil sawah itu, kecuali ketika pulang kampung bila ada pesta adat, dan selama itu pula ia tak lagi pernah memakai perhiasan emas. Sakitnya, pada waktu Kakek meninggal, Mamak baru tahu sawah itu ternyata sudah digadaikan setahun sebelumnya namun adik-adik tirinya tak mampu menebus kembali sehingga sekarang jadi milik orang.
Saat Mamak marah, adik-adik tirinya justru mengklaim Mamak tak pernah ambil bagian soal mengurus Kakek dan Nenek. Mereka bilang sawah itu tak mampu ditebus lagi semata-mata menghidupi Kakek-Nenek hingga akhir hayat. Oleh sebab itulah Tiomina ingin sekali membeli sawah baru untuk Mamak.
Ia ingin Mamak bahagia. Ia mau perempuan itu tidak kerja upahan lagi di hari-hari senggangnya menggarap sawah milik orang karena sistem bagi hasil terlalu pahit rasanya. Terlebih Tiomina memiliki tiga orang adik yang mesti diperjuangkan keras-keras masa depannya. Tiomina rela tak melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Ia memilih bekerja. Ia harus menyekolahkan ketiga adiknya. Tapi, pekerjaan macam apa yang gajinya besar bagi gadis yang hanya lulusan SMK jurusan tata boga?
Baca juga: Togel – Cerpen Adam Yudhistira (Padang Ekspres, 19 Agustus 2018)
Beberapa bulan lalu Tiomina berkenalan dengan seseorang yang tiba-tiba saja mereka bertemu di terminal. Seseorang itu bercerita dirinya sedang membangun rumah bertingkat lantai keramik untuk orangtua di kampung. Biar tak dihina saudara. Biar tak dianggap rendah tetangga-tetangga, katanya. Tiomina belajar. Pertama kali, masih dengan jantung terlonjak-lonjak, ia berhasil memasukkan uang pecahan sepuluh ribu ke cekungan BH-nya ketika si penjual kacang yang ia belanja di sana pergi menukarkan uang agar ada kembalian.