Tiomina

Pernah juga ia pergi malam-malam. Pulangnya bawa sekresek celana baru. Mamak menangis sedih menemukan anaknya nyaris pingsan saat membuka pintu dengan wajah remuk-remuk. “Kenapa kau, Tiomina?” tanyanya. “Dikejar-kejar anjing tadi aku, Mak,” Tiomina berkelit. “Kemarin juga katamu dikejar-kejar anjing. Mana anjingnya? Anjing siapa? Asa hupamate!” Mamak jengkel lalu bilang anjing itu akan ia bunuh karena sudah keterlaluan terhadap anak gadisnya.

Baca juga: Penjaga Buku dan Tokoh Fiksi yang Tidak Bahagia – Cerpen Yetti A. KA (Padang Ekspres, 12 Agustus 2018)

Tak lama setelah kejadian serta rasa sakit di badan Tiomina terlupakan, Tiomina melamar kerja di kedai kopi Namboru Mona. Dua tahun sudah ia bekerja di sana. Ia jujur dan tak neko-neko. Ia rajin. Ia pembersih. Ia ramah. Ia cekatan. Namboru Mona terkesan padanya sampai dirinya dianggap layaknya anak sendiri, dan kadang perempuan itu lebih sayang kepada Tiomina dibanding anak-anaknya yang manja.

Namun seseorang yang ditemuinya di suatu terminal telah merasuk ke labirin jiwanya. Sebagai anak paling tua, setelah Bapak kita tiada, kitalah yang jadi kepala keluarga sekali pun kau perempuan. Kau memiliki tanggungjawab akan seperti apa keluargamu ke depannya. Belilah sawah untuk mamak-mu itu. Kau sudah tahu ‘kan caranya? Tiomina berseri-seri ketika pikirannya diberondongi nasihat seolah itu cahaya dari Tuhan.

Baca juga: Petuah Parihin untuk Yulian – Cerpen Rifat Khan (Padang Ekspres, 05 Agustus 2018)

“Kau akan dipenjara, Tiomina,” ujar lelaki yang menangkap Tiomina malam ini. Tiomina tertangkap basah. Yang awalnya Namboru Mona bilang akan ada arisan marga, itu rupanya hanya sebuah jebakan. Pukul dua puluh dua Tiomina datang, mencongkel pintu belakang. Dimatikan lampu (Tiomina tidak sendirian—ia ada yang menemani). Lalu karena Tiomina terdengar ditangkap, temannya itu kabur ke arah hutan.

Kini Tiomina digiring masuk ke mobil. Matanya memandang malam dengan tangis yang tertahan-tahan di dada. Dicemaskannya Mamak. Diingatnya Bapak yang telah mati. Dipikirkannya ketiga adik yang masa depannya mesti diperjuangkan keras-keras. Ia makin sedih karenanya. Air matanya meluncur ke pergelangan tangannya, dan meluncur lagi ke pergelangan tangan lelaki yang memegangi tangannya.

Arsip Cerpen di Indonesia