“Maaf, novel ini mau aku beli.” Ujarku tersenyum manis. Ada rasa kecewa di bola matanya. Aku menjadi tidak tega.
“Novelnya tinggal satu. Bagaimana kalau kita patungan membelinya. Kita baca bergantian.” Lanjutku.
Aku dan Kinan sepakat bertemu di Arion Cafe. Pertemuan direncanakan setiap Sabtu malam membahas isi novel yang kami beli secara patungan. Kami akan membaca ulang halaman novel paling romantis. Kinan sering menangis saat membahas bagian menyedihkan. Sikap Kinan sangat menggemaskan. Namun kebersamaan kami terlalu singkat. Kami berpisah karena suatu sebab yang tidak aku ingat. Malam ini, kursi kusam kembali mengajakku bercerita.
Baca juga: Kumbang Kotoran – Cerpen Dody Wardy Manalu (Padang Ekspres, 29 Juli 2018)
“Mengapa begitu suka duduk di atasku. Bukankah aku terlalu kusam buat lelaki setampan kamu?”
Kursi itu berhasil membuatku tersenyum. Tidak berapa lama pelayan datang meletakkan secangkir kopi kental di atas meja. Asap meliuk-liuk di udara. Aromanya menusuk hidung.
“ Secangkir kopi kental. Lima sendok bubuk kopi tanpa gula.” Ujar pelayan sambil tersenyum manis. Aku mengangguk. Pelayan Cafe sudah tahu apa keinginanku. Mataku menatap kursi kusam.
“Mengapa kamu begitu suka duduk di atasku?”
Baca juga: Dari Balik Jendela – Cerpen Herumawan PA (Rakyat Sultra, 24 September 2018)
Kursi kusam kembali bertanya. Pertanyaan sedikit klise. Bukankah dia sendiri sudah tahu alasannya? Kami berdua sosok yang sama-sama ditinggalkan. Kursi kusam baru kehilangan pasangannya. Kursi yang biasa disandingkan dengannya patah diduduki lelaki gendut. Kini digantikan oleh kursi baru yang sombong. Kursi baru itu selalu pamer atas catnya yang mengkilap. Terbuat dari kayu meranti yang tumbuh di hutan Kalimantan. Kursi kusam tidak menyukainya.