“Kamu kenapa.”
“Aku hamil.”
Mataku terbelalak. Kinan mengucapkan kata itu tanpa ekspresi. Kata hamil seakan setara artinya dengan sakit perut. Siapa melakukannya? Aku tidak pernah bertindak sejauh itu pada Kinan.
“Maafkan aku, Kak! Aku khilaf. Aku memaksa Kinan melakukannya.”
Perkataan Attala di luar dugaan. Anak masih bau kencur tega melakukan tindakan kotor itu. Aku kalap, lalu menerjang dirinya.
Baca juga: Pencegahan Bunuh Diri – Cerpen Jaroslav Hasek (Jawa Pos, 16 September 2018)
“Dasar kurang ajar.” Teriakku sembari mengacungkan pisau ke arah Attala. Refleks, Attala menarik Kinan dan berlindung di belakangnya. Pisau di tanganku salah sasaran. Benarkah yang aku ingat barusan adalah nyata? Atau ilusi sesaat karena terlalu banyak minum kopi? Bisa saja kursi kusam ini berbohong.
“Kalau aku membunuh Kinan, mengapa aku tidak dipenjara?”
“Hanya orang tertentu tahu kalau Kinan terbunuh. Masyarakat tahu kalau Kinan mati bunuh diri. Lagi pula, siapa yang akan menyelidiki penyebab kematian Kinan. Ia anak yatim-piatu. Dan sejak kejadian itu, kamu jadi gila.”
Lelucon apa lagi ini. Tidak mungkin aku gila. Buktinya, aku datang ke Cafe ini tanpa ada hambatan. Pemilik Cafe juga melayaniku dengan ramah. Kalau aku gila pasti mereka akan mengusirku.
Baca juga: Sulur – Cerpen Eko Setyawan (Rakyat Sultra, 15 Agustus 2018)
“Mari kita pulang. Tolong jangan berbuat seperti ini lagi. Kinan telah tiada. Kakak harus ikhlas menerima kepergiannya.”
Terhenyak mendengar suara dari arah pintu Cafe. Attala berdiri di sana dengan mata berkaca-kaca.
“Maaf, kakakku membuat kekacauan lagi. Aku akan membayar kerugian kalian.” Ucap Attala. Pemilik Cafe mengangguk.
“Lelaki itu jadi gila karena kekasihnya meninggal. Betah bicara dengan kursi hingga berjam-jam.”