“Kamu menyimpan kenangan tentang aku dan Kinan. Tiga tahun lalu, setiap Sabtu malam, aku selalu duduk di atasmu dan Kinan duduk di hadapanku. Selesai membahas novel, kami akan memesan sepiring nasi goreng ditaburi daging merah tanpa kerupuk. Kinan akan menyuapiku sembari bercerita tentang bunga mawar miliknya tak pernah berhenti berbunga. Pun anak kucingnya yang suka makan biskuit.”
Aku berhenti sejenak, lalu menyeruput kopi kentalku. Rasanya sangat pahit tanpa gula.
“Bagian itu sudah ribuan kali kamu ceritakan. Yang belum kamu ceritakan, mengapa kalian bisa berpisah. Dulu, bukankah kalian pasangan paling romantis?”
Baca juga: Cornelia dan Api di Dadanya – Cerpen Seto Permada (Rakyat Sultra, 15 Oktober 2018)
Bibirku langsung mengerucut. Selalu tampak bodoh bila dihadapkan pada pertanyaan itu. Aku sendiri tidak ingat mengapa kami berpisah. Ingatanku tentang Kinan selalu berakhir pada kursi kusam ketika kami membahas novel dan makan nasi goreng tanpa kerupuk.
“Aku benar-benar tidak ingat akhir kenanganku. Pasti ada yang salah dengan otakku.” Ucapku sembari memukul kepalaku.
“Aku sudah tahu penggalan terakhir kenanganmu. Tapi aku ingin mendengar langsung darimu.”
Dahiku berkerut. Kursi kusam menyimpan satu rahasia tentang diriku? Mengapa dia tidak pernah cerita?
“Bila kamu sudah tahu, bisa menceritakannya padaku?”
Baca juga: Matinya Penyembah Puisi – Cerpen Ken Hanggara (Rakyat Sultra, 19 September 2018)
Mataku tampak memelas.
“Kamu membunuh Kinan karena terus mendesakmu untuk menikahinya. Kinan hamil.”
“Itu tidak benar. Bagaimana mungkin aku membunuh gadis sangat aku cintai.”
Suaraku meninggi tidak terima dituduh sebagai pembunuh. Sontak pengunjung Cafe kaget mendengar teriakanku. Aku kibaskan tangan ke atas meja. Cangkir kopi tercampak ke udara, lalu mendarat di lantai mengeluarkan suara gaduh. Kepalaku tiba-tiba sakit, siluet seperti potongan film berkelebat menyelimuti pandanganku. Siluet itu semakin jelas dan nyata. Aku melihat Kinan memegang perutnya. Atalla, saudara laki-lakiku yang baru lulus SMA berdiri di sebelahnya. Saat itu, aku berada di dapur tengah menyiangi ikan. Terkejut melihat wajah Kinan berderai air mata.