“Aku akan benar-benar membunuhmu. Membunuh kemungkaran yang bersarang dalam dirimu,” teriak Siding.
“Hanya anak durhaka yang melakukan itu,” balas Hammadong kemudian hilang di balik pintu kamarnya. Siding makin dibuat emosi. Ia berjalan ke belakang rumah, mengasah goloknya. Di keheningan malam, ia melancarkan aksinya itu. Menebas batang leher Hammadong.
***
Sepasang suami istri beserta anaknya yang bermata cekung, pagi ini kembali ke rumah itu. Mereka meletakkan cerek berisi air di atas meja. Siding sudah jenuh didatangi mereka.
“Mustahil ayahku kembali ke rumah ini lagi. Kudengar kabar, di sana ia disiksa malaikat atas perbuatannya selama ini,” ucap Siding.
“Kalau memang begitu, kaulah yang mewakili Tuan,” balas sang suami. Seketika raut wajah Siding berubah. “Aku mendengar ini dari orang-orang, Tuan pernah mengatakan sejak kau lahir ke dunia, jampi-jampi itu sudah mengalir bersama dengan darah dalam tubuhmu,” lanjutnya sembari menggeser cerek ke hadapan Siding.
“Ucapkanlah jampi jampi itu! Betapa kami sangat berharap kau bisa menyembuhkan anak kami,” raut wajah sang istri memelas.
“Tidak! Aku tidak tahu apa apa. Bergantung pada makhluk dengan mengabaikan Tuhan adalah bentuk kesyirikan. Betapa terkutuknya perbuatan itu,” tegas Siding.
Sang suami meraih kembali cerek itu. Mereka sangat berterima kasih pada Siding. Siding dibuat tak mengerti. Padahal ia tidak mengucapkan jampi-jampi sama sekali. Rona bahagia terpancar dari wajah mereka saat meninggalkan rumah itu.
Ramai orang mendatangi rumahnya sejak kejadian itu. Baik di waktu pagi, sore, maupun malam. Siding kewalahan meladeni mereka. Satu per satu cerek mereka dihadapkan padanya.
Siding selalu menolak, lagi pula ia sungguh tidak tahu jampi-jampi sialan itu. Anehnya kata-kata apa pun yang keluar dari mulut Siding, mereka anggap sebagai mantra. Dan memang berhasil mengangkat penyakit mereka tatkala meminumnya.