Lembar demi lembar ia cermati tanpa satu pun terlewati. Setelah wadah itu benar-benar kosong, Pria Jahe berdesah dengan isi wadah yang telah berpindah ke tangannya dengan genggaman semierat. Kedua bola mata dengan iris secokelat kue yang tiap hari dibuatnya itu menyusuri ruangan, tak tahu harus berbuat apa. Ia seperti insan yang kehilangan kunci pintu kebahagiaan.
“Masih kurang banyak.” Berkatalah ia dengan pelan. Berharap hanya rayap penggerogot dipan yang mendengarnya.
“Ada apa, Nak?”
Baca juga: Cerita Nenek – Cerpen Ahmad Moehdor Al-Farisi (Pikiran Rakyat, 09 September 2018)
Terdengar suara lemah nan mendayu dari seorang perempuan renta yang berdiri di dekat pintu. Rangka dan raga yang tak lagi sekuat dulu mengharuskannya menggunakan sepotong tongkat sebagai alat bantu. Dengan segera, Pria Jahe menaruh kembali semua uang ke wadahnya. Ia bungkam seribu bahasa, seakan seluruh kosakata hilang dari benak. Tak mau membuat keadaan rnenjadi pilu, ia pun tersenyum dan berkata seadanya.
“Tidak ada apa-apa, Bu.”
Ibu yang sepertinya kurang yakin dengan jawaban putra semata wayangnya itu hanya rnenatap Pria Jahe dengan ragu dan khawatir, tetapi sarat akan kasih sayang.
“Ibu istirahat saja. Saya harus mengantar pesanan,” kata Pria Jahe sambil mengecup kening sang ibu lembut. Usai bersiap, berangkatlah dia.
***
Baca juga: Kekasih dari Bulan – Cerpen Rosi Ochiemuh (Pikiran Rakyat, 02 September 2018)
“Dari mana aku mendapat kekurangan uang sebesar itu dalam waktu dekat?” pikir Pria Jahe tatkala melangkahkan kaki dari peradaban pemesan kuenya. Tak disangka ia tadi bertemu lintah darat yang ia pinjam uangnya beberapa bulan lalu untuk pengobatan sang ibu.
“Lunasi dalam seminggu, atau tinggalkan rumahmu!”
Kata-kata bernada ancaman yang tadi dilontarkan mulut lintah itu terngiang dalam pikirannya. Singkat, tidak bertele-tele, tetapi pedang kalimat itu sukses menghunusnya tepat di ulu hati. Pasti orang awam bisa melihat dengan jelas kegundahan yang melanda pria seperempat abad itu.