“Ke kota, Tuan,” ucap Pria Jahe ketika sebuah kereta kuda berhenti. Dengan bekal beberapa kue jahe dan uang seadanya, ia mencoba mencari nasib di sebuah bank tengah kota.
“Hari ini aku akan berdagang di kota, Bu,” ucapnya sedikit tidak jujur kala itu.
***
“Akhirnya kau melunasinya juga,” ucap rentenir sambil tersenyum sarkastis. Pria Jahe hanya tersenyum pahit dan segera pergi dari sana. Satu utang telah kandas. Paling tidak rumahnya aman.
Baca juga: Tentang Kerudung Baru Impian Ibu – Cerpen Sandza (Pikiran Rakyat, 01 Juli 2018)
“Pria Jahe, Pria Jahe! Akhirnya kau kembali. Rumahmu….” Salah satu tetangga berkata dengan napas terengah-engah. Tanpa tahu duduk persoalannya, Pria Jahe segera berlari menuju rumah yang baru saja diselamatkannya.
Pemandangan di depannya sangat di luar nalar. Jago merah berkobar dengan ganasnya, melahap rumah berbata merah itu. Berpuluh-puluh ember diayunkan untuk menghempaskan air di dalamnya.
“Ibu!” Pria Jahe panik. Tanpa memedulikan sekitar, tubuh tegap itu menembus rumah yang sudah tertutup api. Orang-orang yang sibuk memadamkan kelakuan jahanam api itu tak menyadari seseorang telah melanggar garis keselamatan. Panas menyelimutinya. Sosok yang dicari tidak ditemukan jua. Sahutan demi sahutan kalah dengan suara merah yang marah. Hingga akhirnya….
“Aarrgghh!”
***
Baca juga: Warisan dari Kakek – Cerpen Miftah Amarudin (Pikiran Rakyat, 22 Juli 2018)
Di sebuah rumah kecil di ujung jalan, seorang perempuan tua menatap kosong jalanan di depannya. Mata yang sudah tak awas lagi tengah rnenanti seseorang. Satu-satunya anggota keluarga yang masih dimiliki untuk menemani hari tua. Sendok bernasi yang disodorkan orang di sampingnya, si pemilik rumah, tak kunjung digubris.
“Apa ada kabar darinya? Anakku belum kembali.”