Semua hal tentang utang-piutang yang membebani Pria Jahe berkecamuk dalam pikiran. Selama perjalanan pulang, sesekali kedua tangannya menggaruk kulit kepala yang sama sekali tidak gatal. Langkahnya gontai seperti orang yang tidak tidur tiga hari lamanya. Orang-orang yang lalu lalang tidak digubrisnya. Pedagang kaki lima yang kebanyakan tetangganya heran dengan sikap Pria Jahe karena biasanya bibir itu basah dengan sapaan “selamat siang”, “hai”, dan sejenisnya.
Setelah dua kilometer melangkahkan kaki di jalan aspal yang sedang berfatamorgana, akhirnya Pria Jahe tiba di sebuah bangunan berbata merah yang berada di sisi kiri jalan. Tak ada yang tahu nasib rumah itu beberapa hari lagi.
Baca juga: Kisah Pilu tentang Seutas Tali – Cerpen Sam Edy Yuswanto (Pikiran Rakyat, 10 Juni 2018)
Apakah orang setara tikus berdasi itu akan menancapkan bendera kemenangan di peradaban rakyat jelata yang dibodohi kala kesempatan tiba?
“Aku harus mempertahankan rumah ini demi ibu. Jika disita, aku bisa merantau. Aku bisa tinggal beratapkan langit. Namun, ibu? Sengat matahari dan angin malam tidak boleh menemani masa tuanya,” pikir Pria Jahe sambil terisak dalam hati.
“Hai, Pria Jahe!”
Orang yang merasa disapa pun menoleh.
“Hai, Bob! Dari mana, kau?” balasnya menutupi hati yang gundah gulana.
Baca juga: Sebuah Kamar Rahasia – Cerpen Deden Hardi (Pikiran Rakyat, 15 Juli 2018)
“Aku baru saja meminjam uang dari bank kota untuk modal usahaku. Mereka memberikan bunga yang kecil,” ujar yang dipanggil Bob itu.
“Benarkah?”
“Benar. Baiklah, aku pergi dulu.” Orang itu pun beranjak sambil melambaikan satu tangannya kepada Pria Jahe.
“Tahu seperti itu, aku tidak akan meminjam pada rentenir sarkastis itu! Nahas. Hm, apa aku harus…” Seketika segurat senyum terpoles di bibirnya.
***