Rumah di dalam tubuhku?
Aku tersentak.
Kulihat sosok asing itu masih memainkan alat musiknya di kisaran nada-nada rendah. Gemanya memenuhi lembah-lembah di dalam dadaku. Seperti tengah menebarkan aroma kesedihan.
Aku hampir saja melaksanakan niat untuk menyapa seniman nyentrik itu. Andai saja panitia pertemuan, melalui speaker, tak menyuruh kami lekas masuk dan mengambil tempat duduk di dalam ruang.
Masih dalam kondisi setengah penasaran, aku pun masuk ke dalam ruang. Begitu mendapati pemandangan di dalam, aku pun kembali terkejut. Sampai-sampai aku kembali keluar dan kemudian kembali masuk ke dalam.
Tetap saja kedua mataku seperti telah kena sihir. Orang-orang yang telah duduk di kursi undangan itu, tubuh mereka telah berubah. Menjadi makhluk berwarna merah, hijau, kuning, coklat, ungu, dan lain-lain.
“Silakan duduk, Tuan. Kami sudah menunggu Tuan sedari tadi…,” ujar seseorang yang berada di muka ruang. Kuduga pastilah panitia pertemuan. Dengan canggung, aku mengangguk hormat.
Sesampainya di tempat duduk, aku masih tak percaya dengan pemandangan ini. Apakah aku telah benar-benar kena sihir? Sejak kapan dan oleh siapa? Bukankah sejak kedatanganku ke pertemuan ini, aku tak pernah ke mana-mana? Hanya sempat mendengarkan musik yang dimainkan oleh orang asing Aborigin itu? Apakah aku telah benar-benar terperangkap dalam halusinasi akibat mantra-mantra?
“Anda hendak ke mana, Tuan?” tegur tuan panitia yang tengah menyampaikan pidato sambutannya di depan forum. Aku nekat meneruskan langkah dan tak mengacuhkan teguran itu. Toh nyatanya dia pun kemudian balas tak mengacuhkanku dan kembali meneruskan pidatonya.
Sesampainya di luar, aku justru kelimpungan mencari sosok seniman nyentrik yang kusangka juga tukang hipnotis itu. Berjalan dari sisi kanan ke sisi kiri halaman gedung, seorang satpam dengan tubuh hitam datang menyapaku.