Sihir Didgeridoo

Ketika ceritanya itu kuanggap tak menarik lagi dan hanya menimbulkan perasaan buruk saja. Akhirnya dia pun berhenti mengoceh setelah aku memalingkan muka. Apa dia pikir aku seperti dirinya, yang selalu saja ingin dikasihani lantaran masa lalu kelam? Aku juga punya kisah sedih seperti dirinya. Kini, masih ada saudaraku yang mempertaruhkan nyawa, menyeberangi samudera raya. Hanya demi mencari tanah harapan. Di tanah kelahiran, kami telah dianggap sebagai parasit.

Aku telah beralih ke lelaki di sisi kiriku yang tampak serius mendengarkan ceramah tuan panitia di depan ruang sana. Lelaki ini seolah tak mendengar pertanyaanku dan justru terhipnotis oleh ceramah itu. Akulah yang terhipnotis oleh pemandangan ini. Tubuh lelaki yang semula berwarna kuning itu tiba-tiba dirambati oleh warna hitam yang mula-mula merayap dari kedua kaki.

Aku berjingkat ketika menyadari, warna hitam itu ternyata telah menyebar di lantai. Seperti genangan air, namun dia hidup dan mencari inang untuk ia kuasai seluruhnya.

Aku segera berlari keluar, tanpa memedulikan teriakan tuan panitia yang masih berceramah di muka ruang. Cairan hitam yang entah dari mana muasalnya itu bahkan sudah mencapai pintu dan meluber ke luar ruangan. Kugeletarkan kedua kakiku secara bergantian demi membuang sisa yang menempel di kedua telapak sepatuku.

Aku sudah cukup merasa lega ketika sampai di luar ruang. Sebab mereka sudah tak lagi memedulikanku. Aku merasa telah terbebas dari jebakan laba-laba yang hendak memangsa serangga.

***

Mulanya aku hanya ingin tahu yang akan terjadi pada teman-teman senasibku. Setelah keluar dari gedung penerimaan para pengungsi dan kemanusiaan itu. Perhatianku kembali terusik oleh kemunculan pemusik misterius yang tiba-tiba muncul lagi di tempatnya semula. Tanpa ingin menyia-nyiakan kesempatan lagi, aku pun segera melontarkan pertanyaan yang sedari awal telah meloncat-loncat ingin keluar dari dadaku.

“Siapakah Tuan? Mengapa sedari tadi hanya bermain-main musik di situ? Apakah Tuan tahu dengan insiden dan peristiwa di dalam ruang pertemuan itu?”

Saat menemukan kedua matanya, lagi-lagi aku seperti terperosok ke dalam jurang waktu yang teramat dalam. Kali ini aku melihat sekelompok orang (dengan penampian mirip dengan seniman ini) yang mengarungi samudera. Meninggalkan tanah kelahiran dan entah menuju ke mana. Sesampainya di tanah yang mereka anggap adalah tujuan, mereka mulai membangun tempat tinggal. Setelah beberapa waktu tempat itu dirasa cukup nyaman, mereka mengambil keluarga mereka dari tanah kelahiran.

Arsip Cerpen di Indonesia