Fatma dan Lidahnya

Lalu hari ini, Fatma berangkat ke Linggau sendirian, menggunakan mobil travel. Jaudi akan tetap di rumah, menjaga Ayah. Fatma memilih travel, meski perjalanan Bengkulu-Lubuklinggau bisa ia tempuh dengan sepeda motor hanya kurang dari empat jam. Fatma masih trauma atas kejadian semasa kuliah dulu.

Waktu itu musim liburan. Fatma dan kelima temannya sepakat main ke rumah Puspita di Rupit. Sedang musim duku di sana. Duku rupit terkenal lezat. Buah itu besar lonjong sebesar rambutan dengan daging buah tebal dan manis. Puspita girang bukan kepalang akan dikunjungi teman-temannya. Dia lupa berpesan, jika mengendarai sepeda motor di jalur Bengkulu-Lubuklinggau hendaknya melepas helm ketika memasuki wilayah Palak Curup. Palak Curup yang berbukit-bukit dengan jalan berliku dan banyak perkebunan tanpa permukiman di kanan-kiri jalan membuat wilayah itu rawan kejahatan. Namun ada rahasia sebenarnya, supaya aman jika sudah memasuki daerah perkebunan yang sepi itu. Melepas helm dan menyembunyikannya dari pandangan. Sebab, jika tidak menggunakan helm, para begal berpikir pengendara adalah orang daerah situ saja. Mereka akan berpikir dua kali untuk berbuat jahat.

Rombongan Fatma dan kawan-kawan, yang lupa dipesani supaya melepas helm, dikuntit dua pengendara sepeda motor. Dalam sekejap mata, tas tangan Santris dan Rayola telah berpindah tangan ke penguntit. Bukan tas dan isinya yang raib yang membuat mereka trauma. Namun betapa teror akan sesuatu yang lebih mengerikan yang bisa menimpa keenam gadis di tengah hutan jauh dari permukiman jika berhadapan dengan empat pria yang entah masih manusia atau bukan. Nurmala yang paling histeris di antara mereka berenam bahkan nekat menghentikan setiap pengendara yang lewat supaya mau serempak dengan mereka memasuki wilayah permukiman lagi.

Berbulan lamanya Fatma dicekam trauma. Dia juga ingat ucapan Betri, kawan yang dia bonceng kala itu, bahwa dia akan memilih terjun ke jurang dan mati daripada harus diapa-apain keempat begal itu.

Puspita menyambut mereka tak kalah histeris. Memeluk keenam sahabatnya satu per satu dan tak henti meminta maaf atas kecerobohannya. Sambil masih bergandengan, Puspita mengajak mereka masuk ke rumah yang bergaya panggung. Ibu Puspita menyambut dengan senyum ramah dan ucapan permintaan maaf sekali lagi atas kecerobohan putrinya. Menambahkan, ayah Puspita belum pulang dari menakil karet di kebun. Keramahan dan kehangatan rumah Puspita mampu sedikit meredakan kepanikan Fatma dan kawan-kawan.

Arsip Cerpen di Indonesia