Di lantai rumah dari papan, Puspita menggelar tikar untuk mereka. Lalu tanpa basa-basi Puspita dan ibunya menyiapkan makan bersama.
“Kalian pasti lapar,” celetuk ibu Puspita.
Ibu Puspita menyajikan ikan masak pindang. “Pindang rupit,” ujar Puspita bangga. “Ayahku yang menangkap ikan-ikan ini di Sungai Rupit kemarin sore.”
Kenangan beberapa tahun silam itu masih teringat jelas di benak Fatma. Lalu hari ini, Fatma akan melalui kembali jalur horor itu. Rencananya, Fatma akan menginap di salah satu penginapan di Jalan Yos Sudarso, karena resepsi pesta Edison akan dilangsungkan di rumah mempelai wanita. Calon mertua Edison pemilik rumah makan yang menyediakan pindang rupit sebagai menu andalan, di samping kantor Bupati Lubuk Linggau. Di sanalah besok pagi digelar acara persedekahan atau duduk pengantin, dilanjutkan mandi kasai [2] sore hari.
Fatma sampai di penginapan sebelum azan zuhur. Setelah merapikan barang bawaan di penginapan, Fatma menyempatkan diri berjalan kaki menyusuri Jalan Yos Sudarso yang terik siang itu. Fatma melihat sebuah rumah makan yang khusus menjual martabak. Fatma ingat, di Palembang ada martabak ala India yang sangat terkenal. Itulah martabak HAR. Dikenal juga sebagai martabak India karena yang menjual keturunan India.
Fatma penasaran ingin mencoba. Ternyata bahan dan cara membuatnya sama dengan martabak HAR, tetapi bumbunya sama sekali berbeda. Martabak HAR menggunakan bumbu kari kentang, di sini Fatma menjumpai saus bumbu agak asam. Ketika Fatma tanyakan pada ibu yang menjual, ibu itu mengatakan bumbunya dari ketan dan kentang. Ketika Fatma menanyakan alasannya, secara sederhana ibu itu mengatakan tidak tahu cara membuat saus bumbu kari seperti martabak HAR. Sangat polos dan jujur.
Sehabis menyantap martabak, Fatma berjalan kaki sedikit lagi ke arah kanan, dan sampailah di warung model [3] yang sejak awal adalah tujuan utama dia berjalan kaki dari penginapan. Model gandum. Perbedaan model gandum di Palembang dan Lubuklinggau pada ukuran. Di Palembang, ukuran model gandum bisa satu setengah kali bola tenis lapangan. Di Lubuklinggau, ukurannya lebih-kurang sebesar bola tenis meja. Cara penyajian sama saja, dipotong-potong kecil, disirami kuah bening beraroma rempah yang sangat kuat, khususnya biji cengkih serta irisan kecil daging sapi.
Setelah menambahkan sambal ke mangkuk model, Fatma memeriksa gawai. “Aku sudah di warung model gandum,” pesan yang dia kirim belum terbalas. Pesan itu terkirim untuk Tarsin Agani, mantan pacarnya semasa kuliah dulu. Tarsin adalah alasan sesungguhnya bagi Fatma berkeras menginap di penginapan, selain tak mau merepotkan keluarga Bik Wit yang ia jawabkan pada semua orang. Termasuk Jaudi, sang suami. (28)