Naon

Aku dan Ibu hanya mengangguk. Andai saja waktu itu kami mampu melihat masa depan, tentu kami berpikir ulang, bukan langsung meresponsnya dengan anggukan santun. Nasi sudah jadi bubur. Bapak seolah sengaja merencanakan semua, dan kami tak tahu maksudnya.

Minggu depan haul Bapak yang pertama. Aku dan Ibu mulai mempersiapkan segala kebutuhan, terutama hidangan yang bakal disuguhkan, untuk kondangan Kamrat Jumatan. Begitulah cara kami merayakan haul Bapak yang pertama, merayakan dengan tradisi doa-mendoa.

Haul Bapak yang pertama sengaja kami gelar siang hari, pukul 01.30 WIB. Berharap suara gaib yang memanggil-manggilku dan Ibu hanya kami berdua yang tahu. Kalau sampai tetangga tahu, hanya akan melahirkan praduga-praduga buruk mengenai nasib Bapak di kehidupan yang sekarang beliau jalani. Aku dan Ibu berharap arwah Bapak berada di tempat yang damai, meski kami tak pernah tenang menjaga rahasia suara yang mengiau-ngiau itu. Sebisa mungkin kami tetap akan merahasikan peristiwa tersebut.

***

Siang itu, rumahku ramai sekali. Ibu sibuk mempersiapkan segala kebutuhan di dapur, dibantu Juhairiah, tetangga sebelah. Sementara Nyi Rasit sibuk mengemas segala macam Bul-tambul, kemudian memasukkannya dalam plastik kresek. Aku di luar sendirian menyambut kondangan yang mulai berdatangan.

Kira-kira 40 orang menghadiri acara haul pertama Bapak ini. Mereka semua duduk sampai memenuhi beranda rumah. Seperti biasa, tuan rumah memberi salam salam pembuka yang berkaitan dengan tujuan utama mengundang Kompolan Jum’atan. Aku dengan gamblang menjelaskan, kalau maksud kami tidak lain demi menyambut haul pertama Bapak. Meminta kepada mereka semua untuk mendoakan Bapak supaya terhindar dari segala macam siksasaan. Khalayak menganguk pertanda mereka siap dengan ikhlas mendoakan Bapak. Dan terakhir, aku meminta maaf jika ada sesuatu perbuatan Bapak semasa hidup yang kurang mengenakkan hadirin, juga meminta kejelasan, terutama mengenai tanggungan, supaya jangan sungkan-sungkan mengatakan kepada ahli waris (aku), lebih-lebih tanggungan utang-piutang.

“Aku di sini, kemarilah Surliani. Cong Fahmi, jangan tinggalkan aku sendiri.”

Aku baru saja selesai memberi sambutan. Suara itu tiba-tiba memanggil-manggilku dan Ibu. Semua orang bersitatap satu sama lain. Suasana hening seketika. Aku mulai salah tingkah. Aku langsung mengernyitkan kening kepada Ustad Arif agar ia melanjutkan acara. Alhamdulillah, Ustad Arif tanggap dan memulai yasinan. “Ila Hadratin…”

Arsip Cerpen di Indonesia