“Aku di sini, kemarilah Surliani. Cong Fahmi, jangan tinggalkan aku sendiri.”
Suara itu kembali terdengar. Bibir Ustaz Arif yang tadinya khusyuk komat-kamit, terhenti. Semua orang mulai saling berbisik. Suara itu kemudian semakin keras, terus-menerus memanggilku dan Ibu. Aku tak tahu apakah harus menyahut atau tidak. Aku benar-benar bingung.
Ibu tiba-tiba keluar mendekatiku. Jelas muka beliau terlihat putih masam. Melihat wajah Ibu begitu, orang-orang semakin bingung tak karuan, saling menatap penuh risau.
“Suara siapa yang memanggil-manggil?” Aku tak tahu Ustaz Arif bertanya kepada siapa. Aku dan Ibu sama-sama bingung. Sama-sama diam. Sementara itu, suara yang memangil-manggilku dari kamar bergembok itu semakin nyaring menyambar kuping. Semua orang ikut-ikutan mengekpresikan ketakutan. DKompolan Jum’atan dengan sekejap kocar-kacir. Mereka semua pasti masih mengenali suara yang memanggil-manggil namaku dan Ibu. Firasatku.
“Demi Ibu dan kau, Bapakmu rela melakukan apa saja. Beliau sangat bertanggung jawab pada kewajibannya. Bahkan, beliau rela kehilangan nyawa demi kita. Barangkali beliau memanggil-manggil kita itu bentuk dari tanggung jawabnya yang sekarang. Kita harus berani menemui panggilan itu, anakku. Jangan takut, kita barengan masuk!”
“Ibu yang di depan, aku belakangan,” jawabku penuh perasaan takut.
***
Ibu dan Bapak tak pernah bertengkar. Bapak sangat baik padaku juga terhadap Ibu. Setiap akhir pekan, aku selalu mendapat hadiah buku-buku kesukaanku. Setiap ulang tahun, tinggal menyebut permintaan, Bapak langsung mengabulkan.
Semasa Bapak hidup, beliau adalah Kepala Desa di Kampung Guluk-guluk tempat kami tinggal. Bapak menjabat selama dua dekade. Tapi, Bapak meninggal sewaktu masa jabatannya tinggal 2 tahun 2 bulan 12 hari.
Aku ingat betul. Waktu itu malam hening. Aku, Ibu, dan Bapak, sedang tidur pulas ketika tiba-tiba kampungku dipenuhi kerusuhan di mana-mana.
Dari luar kamar, terdengar suara orang berteriak-teriak memanggil Bapak. Tapi, rumahku waktu itu dijaga ketat oleh 12 bajing yang dikontrak Bapak. Bajing-bajing tersebut bertubuh kekar, bermuka beringas dan selalu siap mengusir apa pun atau siapa pun yang datang. Semua orang di kampungku takut betul pada 12 bajing yang lebih suka kekerasan dari pada bicara setiap menyelesaikan masalah itu.
Meski di luar huru-hara bertebaran, kami nyenyak tidur di dalam kamar, seolah tak ada masalah.