Semua itu berakhir ketika rumah kami dikepung oleh segerombolan orang berseragam lengkap. Di pinggang mereka, senapan-senapan menyilang. Dan alangkah sialnya kami karena 12 bajing yang dikontrak Bapak lari tunggang- anggang setelah tembakan peringatan dilepas.
Aku dan Ibu hanya diam melihat tubuh Bapak yang jangkung serupa tarebung ditendang-tendang karena mencoba melawan. Tangan belia kemudian diborgol, dan mereka masukkan Bapak secara paksa ke dalam mobil jip lantas membawanya entah ke mana. Aku dan Ibu hanya bisa menangis menjerit-jerit ketika sosok Bapak semakin terlihat menjauh dan kemudian menghilang dalam pandangan samar-samar.
Aku tak tahu pasti siapa orang yang telah begitu keji menjadikan aku anak yatim. Kabarnya, Bapak sengaja dibunuh atasannya sendiri.
Bapak disidang karena terjerat kasus penggelapan pajak, penggelapan raskin, penggelapan pembangunan. Seorang hakim memvonis Bapak mendapat hukuman tembak mati. Eksekusi harus di depan banyak orang lantaran telah sengaja melahap uang hak banyak orang demi kepentingan keluarga. Maka, kematiannya pun layak dipertontonkan. Ditayangkan di seluruh saluran televisi secara langsung. Besoknya, Bapak jadi headline di semua surat kabar.
Jogjakarta, 2018
Catatan:
Naon adalah tradisi orang-orang Madura untuk menyambut seratus hari kematian seseorang.
Sengat Ibrahim, lahir di Sumenep, Madura, 22 Mei 1997. Menulis puisi dan cerita pendek. Bertuhan pada Bahasa, merupakan buku puisi pertamanya. Sekarang menetap di Yogjakarta sekaligus bekerja sebagai Pemangku Adat Literasi & Taman Baca Masyarakat di Lesehan Sastra Kutub.