Lebih sempurna lagi, tangan ibu mampu membesarkan kami berlima. Seperti Kunti, setelah sepeninggal Pandu, ia nggula wenthah, kelima anaknya itu. Melalui tangannya yang sempurna, kelima anaknya bisa tumbuh besar meski harus lara lapa di hutan belantara. Kami berlima memang dibesarkan dalam suasana yang serba pas-pasan meski kedua orang tua kami adalah pegawai negeri.
Namun, berkat tangan kesabaran ibulah, semua yang dianggap pas-pasan terasa berlebih. Hanya tangan ibulah yang selalu menjulur dengan ikhlas, mengentaskan kami dari kesulitan demi kesulitan.
Ibu selalu menceritakan tentang kisah-kisah pewayangan. Pada suatu malam ketika kami dililit kelaparan, kami berlima diceritakan tentang ketangguhan para Pandawa, ketika mbabat alas, untuk mendirikan kerajaan.
“Ia hanya memakan daun-daunan demi sebuah cita-cita,” kata ibu, sesaat sebelum kami berlima terlelap, melupakan rasa lapar.
Dan, pagi harinya, di meja makan sudah tersedia kulup daun ketela, sambal terasi, dan nasi putih bercampur nasi jagung. Di sebelahnya ada ikan pindang yang biasa didapat dari pasar mingguan. Tak jarang, kami hanya makan nasi dikepal-kepal dicampur dengan parutan kelapa dan garam.
Tak heran, aku selalu merasa rikuh ketika hendak memegang tangan ibu. Rasanya, tangannya berkilau, membuat mata ini tak bisa menatapnya untuk beberapa lama. Rasanya hati ini gugur ketika menatap keriput tangan ibu.
Sikapku itu pernah diprotes istriku. “Mengapa Sampean tak pernah mencium tangan Ibu?”
Aku tak menjawab. Toh, pada akhirnya istriku tak pernah memaksa meminta jawaban. Lambat laun, ia akan tahu mengapa saya tak pernah mencium tangan ibu.
“Ah…surga kan ada di bawah telapak kaki ibu..?” jawabku bergurau, ketika suatu hari istriku kembali bertanya tentang kebiasaanku yang tidak pernah mencium tangan ibu.
Padahal, setiap hari raya atau saat pertemuan keluarga, ia tahu, semua kakak dan adik-adikku mencium tangan ibu penuh takzim. Sementara aku, dengan gaya klewas–klewes, menyalami tangan ibu sekadarnya.
Memang pernah aku diperingatkan saudara-saudaraku. Tetapi, ibuku tak pernah menghiraukannya. Bahkan, ia malah membelaku. “Wis..biar saja…” katanya, dengan nada ketuaannya yang tulus.
Hatiku lega, ternyata ibu menerima sikapku. Padahal, aku berharap ibu memberiku wejangan. Tetapi, entah mengapa ia menerima sikapku itu dengan tulus. Hal itu malah membuatku semakin tak berani menyentuh tangan ibu.